JAKARTA – Mantan Kepala Staf Kostrad ABRI, Mayjen (Purn.) TNI Kivlan Zen, mengatakan kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) ditegaskan bukanlah isapan jempol belaka. Berbagai peristiwa sejarah membuktikan bahwa paham komunisme masih eksis di negeri ini.
Kivlan Zen menegaskan, kebangkitan PKI adalah sebuah fakta, isu itu bukan hanya sebuah ilusi. Sebab, selain para aktivis mahasiswa, elemen PKI juga ikut dalam aksi melengserkan Presiden RI ke-2, Suharto.
“Suharto hancur, siapa yang menghancurkan elemen komunis. Elemen Partai Rakyat Demokratik, Forkot, Fordem saya lihat mereka demo pakai (lambang) komunis. Saya enggak sendiri. Sampai di Tugu Proklamasi dia bawa anak Forkot, Fordem dan PDI,” ungkap Kivlan Zen di Cikini, Jakarta Pusat, 13 Oktober 2018.
Setelah Suharto tumbang, pada era pemerintahan Presiden RI Abdurahman Wahid (Gus Dur) pun elemen komunis masih terus beraksi. Mereka dengan terang-terangan mendesak pemerintah untuk meminta maaf kepada keluarga PKI. “Gus Dur minta maaf tapi secara pribadi bukan presiden,” kata Kivlan Zen.
Selain itu, lanjutnya, pada tahun 2003 ada juga upaya dari elemen komunis yang meminta dibuatkan Undang-Undang Rekonsiliasi. Namun pada akhirnya UU itu dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi.
“Namanya UU rekonsiliasi supaya mereka tidak salah, ini fakta bukan ilusi,” tegasnya.
Menurutnya, bahwa komunisme masih eksis di Indonesia. Mereka dibina oleh seorang profesor dari Amerika Serikat. Profesor itu yang mendidik kader-kader komunis agar bisa masuk ke dunia kepemerintahan, dan DPR.
“Waktu Jokowi mau jadi presiden mereka datang dan menawarkan dukungan 15 juta dengan syarat Jokowi harus minta maaf dan meminta rehabilitasi. Waktu itu Jokowi tolak. Tapi saya baca konsep pidato RAPBN 16 Agustus 2015, mau dimasukan mohon maaf negara dan rehabilitasi. Tapi tidak dibacakan. Masih ada sama saya lampiran Pak Jokowi minta maaf, tapi tidak dibaca,” kata Kivlan Zen.
Untuk itu, dia meminta semua pihak berhati-hati akan bahaya laten dari komunis tersebut. “Orang komunis ini sifatnya adalah militan, propaganda, fitnah segala macam. Itu makanya kita hati-hati,” pungkasnya.
Reporter: Agus Irawan. []Sumber: inilah.com




