Kelompok gerilyawan Houthi mengklaim telah menyerang Arab Saudi dan menahan tentara kerajaan di Timur Tengah itu, 28 September 2019.
Juru Bicara Houthi, Mohammad Abdul-Salam, menyatakan tiga brigade militer musuh telah jatuh dalam serangan 72 jam sebelumnya dan didukung oleh sejumlah pesawat tanpa awak, misil, serta unit pertahanan udara. Tentara yang ditangkap disebut mencapai ribuan dan ada ratusan kendaraan bersenjata diambil alih.
“Operasi 'Victory from God (Kemenangan dari Tuhan)' adalah serangan militer terbesar sejak agresi berlangsung. Musuh kalah besar… dan kami telah membebaskan banyak wilayah hanya dalam beberapa hari,” paparnya seperti dilansir Reuters, 29 September 2019.
Namun, pihak Arab Saudi belum memberikan komentar atas pernyataan tersebut. Serangan disebut dilakukan di dekat perbatasan Yaman-Arab Saudi, tepatnya di Najran.
Jika benar, maka ini merupakan serangan besar kedua yang terjadi setelah kelompok Houthi menyerang fasilitas pengolahan minyak milik Saudi Aramco, beberapa pekan lalu. Serangan tersebut sukses memengaruhi suplai minyak Arab Saudi ke pasar global.
Selain itu, serangan ini juga bisa mengganggu upaya PBB untuk mengurai ketegangan di kawasan tersebut dan membuka negosiasi damai antara kedua pihak.
Pada Jumat (20/9), pihak Houthi menyatakan akan menahan serangan misil dan drone ke Arab Saudi jika koalisi yang dipimpin Arab Saudi menghentikan operasi militernya. Belum ada respons apapun dari koalisi atas pernyataan tersebut.
Penulis: Anissa Margrit.[]Sumber: bisnis.com

