BANDA ACEH – Muhammad Bakri, 40 tahun, warga Aceh Besar, terkejut membaca berita “Peta Darod Donya Perlihatkan Banyak Situs Sejarah yang Kini Hilang” yang dirilis portalsatu.com, 5 September 2017 lalu. Dia membenarkan bahwa ada beberapa kuburan kuno yang dilihat di kawasan Blang Padang Banda Aceh, seperti yang ditulis dalam berita tersebut.

Nyan beutoi, na batèe jirat awai di keu SMAN 1 Banda Aceh, to kawasan Blang Padang,” kata Muhammad Bakri kepada portalsatu.com, Kamis, 7 September 2017. Muhammad Bakri semasa kecil tinggal di Punge Ujong, Banda Aceh, dan sering menghabiskan waktu di kawasan Blang Padang. Dia juga sering melintasi kawasan ini ketika bersekolah.

Apa yang disampaikan Muhammad Bakri ini senada dengan pengakuan arkeolog independen Aceh, Deddy Satria, kepada portalsatu.com tiga hari lalu. Deddy mengatakan ada tiga kompleks makam kuno di kawasan Blang Padang Banda Aceh. Dia mengaku sempat melihat keberadaan kompleks makam besar di kawasan Blang Padang tersebut sebelum akhirnya “menghilang”.

Hana meuho. Nyan keuh yang hireuen, watèe '89 nyan itu direhab. Rumah yang di pojok jalan Blang Padang, aleuh nyan 3 rumah itu ada struktur (kompleks makam berdiwai). Besar strukturnya. Rumah tidak diberikan batas dinding pagar halaman, (makam tersebut) hana diganggu,” kata Deddy.

Dia mengatakan, sekitar 1988-1989, kompleks makam berdiwai seperti yang tertera dalam peta Darod Donya tersebut masih dapat disaksikan di kawasan Blang Padang. Menurut Deddy, struktur bangunan makam di kawasan Blang Padang pada tahun tersebut juga masih rapi.

Meunyoe na acara di Blang Padang, memang tempat duek nyan. Please sit down here (kalau ada acara di Blang Padang, kompleks makam tersebut menjadi tempat beristirahat pengunjung seakan-akan di makam tertulis, silakan duduk di sini),” kata Deddy, bercanda.

Deddy mengatakan, type nisan yang ada di Blang Padang tersebut menyerupai model batu nisan Raja Raden atau serupa nisan di Kompleks Makam Syahbandar Mukhtabar Khan. Deddy menduga kompleks tersebut makam keluarga istana Kesultanan Aceh.

“Memiliki diwai. Ada enam batu nisan yang ada di kompleks tersebut,” kata Deddy. Bahkan, pada masa tersebut banyak peneliti yang mendatangi kompleks makam di Blang Padang tersebut.

“Artinya memang masih dijagalah. Kemudian tahun 1990-an, perluasan, dibuat pagar-pagar rumah pejabat, (kompleks makam besar itu) hilang. Nisan tidak ada lagi,” ujar Deddy. 

Deddy memperkirakan kompleks makam berdiwai tersebut saat ini sudah masuk pekarangan rumah Wali Kota Banda Aceh. “Sudah masuk halaman (rumah dinas wali kota),” ujarnya.

Selain itu, Deddy menyebutkan, ada lagi kompleks makam kuno yang sudah masuk pekarangan Dinas Kesehatan Aceh. “Nyan pih hana deuh lé, ka dipeugèt parkir,” ujar Deddy.[] (*sar)