BANDA ACEH – Kondisi Kompleks Makam Poteu Raja di Kawasan Krueng Neng Lamjamee Jaya Baru Banda Aceh, kini terlihat di sekelilingnya mulai longsor, terkikis oleh air sungai hingga memerlukan perawatan yang serius dari pemerintah secepatnya.

“Situs sejarah ini perlu perhatian khusus dari para pihak, khususnya pihak BPCB san Disbudpar  agar semua situs terawat dengan benar, karena sejarah merupakan modal bagi sebuah bangsa, maka dari itu tunjukkan bahwa bangsa kita punya modal,” kata Ketua Peubeudoh Sejarah, Adat dan Budaya Aceh (PEUSABA) Mawardi di makam Poteu Raja, Minggu, 16 Desember 2018.

Kunjungan Tim Peusaba ke kawasan makam itu bagian dari kegiatan sosialisasi pakaian adat Aceh yang sering mereka lakukan dengan mengunjugi, berziarah ke situs-situs sejarah. Karena kondisi makam terlihat kurang perawatan, Peusaba pun kemudian membersihkan belukar yang mulai menutupi kompleks makam itu.

“Kami juga menyayangkan pamplet makam Poteu Raja di kawasan Krueng Neng Lamjamee sudah tidak ada lagi. Dari sejarah yang diketahui kalau Poteu Raja ini hidup sekitar abad ke 17 M, dan makam beliau sebelum tsunami terjaga dengan baik,” katanya.

Mawardi mengatakan, Poteu Raja adalah panggilan kepada Sultan, kerena itu, ia menduga bahwa makam itu adalah makam dari salah satu sultan Aceh zaman dulu.

Ia juga mengharapkan supaya rakyat Aceh menjaga makam zaman dahulu dengan baik, sehingga bisa menjadi pembelajaran bagi semua pihak, dan jangan dihancurkan makam pendahulu endatu apapun alasannya. 

“Kami berharap para peneliti bersedia untuk mencari batu nisan yang diduga hilang ketika tsunami, atau telah jatuh ke sungai, karena dengan situs sejarah kita menjaga Aceh. Jika sejarah hilang apalagi, bukti kebesaran Aceh di masa yang akan datang. Dengan itu kita harus menghormati dan menghargai perjuangan nenek moyang kita yang telah dengan sungguh-sunguh dalam menyiarkan Islam di Asia Tenggara,” katanya.[]