Oleh Taufik Sentana

Sesungguhnya kegalauan yang didera Imam Al-Ghazali (1058-1111 M) bukan semata kegalauan ilmiah, tetapi juga kegalauan ruhiyah (eksistensial). Sebagai seorang ilmuan yang memaksimalkan diri di bidang syariyyat dan  aqliyyat (istilah darinya), ia telah terbiasa dalam hal pengkajian, penelitian dan eksperimen. Konon, menurutnya,  kebiasaan meneliti dan menelaah ini merupakan bagian dari masa kecilnya.

Ia telah sampai pada puncak karirnya sebagai manusia yang “lazim”:  berpengatahuan, dihormati, berpengaruh dan dikenal (bahkan oleh Khalifah dan masyarakat dunia ). Saat itu ia menjabat sebagai Kepala Perguruan Tinggi Nizamiyah di Baghdad. Sebuah kampus ternama berkelas dunia. Ia memangku jabatan itu di usia ke -33, sekitar pertengahan abad 11. Sedikitnya ia mengajar 300 mahasiswa dalam sesi kuliahnya. 

Karena kehausan akan ilmu dan dalamnya kajian yang ia pelajari, Imam Al-Ghazali juga sempat digelar sebagai “laut yang luas”. 

Dalam hal mengkaji kebenaran, selayaknya seorang ilmuan, Imam Al-Ghazali tidak hanya mempelajari literatur tentang perkara yang ia dalami, tetapi terlibat dalam  majlis ilmunya”, mendengarkan langsung dari yang ahli di bidang itu. Misal, dalam usaha untuk mengenal metoda Filsafat dan kemungkinan penyimpangannya, ia mempelajarinya sekitar dua tahun secara intens dan langsung, ditambah satu tahun untuk menguji validitas dan berkontemplasi, barulah ia mempublis hasil temuannya. 

Berdasarkan kajian empirisnya, orang orang yang mengaku sebagai pencari (penuntut) kebenaran, sedikitnya terbagi dalam empat kelompok besar. Pertama, mutakallim, golongan ahli fikir dan dan analisa. Kedua, Ahli Kebatinan, sekte yang bertumpu pada seorang sosok guru yang “tak berdosa” dalam mengambil pelajaran. Ketiga, kalangan Filsuf, kelompok yang dianggap pakar dalam logika dan beragumentasi. Keempat, Kelompok Sufi, mereka yang menganggap dirinya terus berusaha taqarrub ke Allah. 

Maka untuk menghalau kegalauan dan pencariannya akan kebenaran, Ia pun mendalami semua bagian kelompok di atas tadi dari akar hingga ke ujung-ujungnya. Hanya saja, perlu dicatat, saat ia mendalami semua bidang itu, ia telah cukup mumpuni dalam bidang syariat (Quran, Hadis dst) dan Mahir dalam ilmu nalar-aksiomatis. Adalah kebodohan bila memasuki ranah tersebut di atas tanpa pengetahuan dasar yang kuat.

Awal Galau Mendera

Pada awal kegalauannya dan setelah ia mendalami beberapa kajian,  ia telah menemukan pandangan khusus tentang dirinya.
” Setelah introspeksi diri, saya temukan bahwa saya selalu dalam keadaan sibuk. Saya menilik semua aktivitas saya dari berbagai sisi, bidang pengajaran  termasuk yang terbaik yang  saya lakukan, sedang lainnya tidak memberi manfaat langsung bagi kebaikan akhirat. Namun, dalam bidang mengajarpun, niat saya tak lagi murni, terkotori oleh tahta, popularitas dan sejenisnya. Sehingga saya sedang benar benar berada di jurang neraka.”

Dalam fase ini, Imam Al-Ghazali merasa terombang ambing selama lebih dari  enam bulan. Dimana puncaknya saat lidahnya telah dikunci oleh Allah (istilah darinya). Imam Al-Ghazali menderita gangguan pada lidahnya, hingga iapun kesulitan dalam memberi kuliah. Namun ia tetap berusaha untuk tetap mengajar walau hanya sehari. Tidak hanya pada bicara, gangguan lidah tersebut juga menyebabkan ia tak bisa menikmati rasa makanan dan minuman. Menurut, dokter, penyakitnya tersebut bukan semata karena fisik, tapi karena tekanan perasaannya yang berat.

Menurut pengakuannya kemudian, kesembuhan dari penyakit tersebut semata mata karena pettolongan Allah,  lewat taqarrub dan doa doa yang ia panjatkan. Saat dimana tak ada ikhtiar lain selain berpasra pada-Nya, seperti yang lazim dilakukan oleh orang terdesak, kata Imam Al-Ghazali.

Setelah ini ia berangkat ke Syam (sekitar tahun 489 H) dengan dalih berangkat ke Mekkah, agar orang orang tidak dapat mencarinya. Disana ia banyak bertafakkur dan bermujahadah. Sebelumnya ia sempat berpamitan dengan pemerintah dan lembaga tempat ia mengabdi. Ia juga meninggalkan bekal harta bagi keluarganya di Baghdad.

Setelah dua tahun di Syam, Imam Al-Ghazali berangkat ke masjid  Damaskus, beri'tikaf disana. Lalu menuju Baitul Maqdis untuk beruzlah. Selepas itu ia melepas rindunya untuk berhaji. Ia juga sempat ke Madinah sebelum  kembali ke Baghdad karena faktor keluarga. Namun uzlah dan khlawat menjadi proritasnya dalam mengembangkan metoda sufi untuk bisa terus menempuh Jalan Allah. 

Menurut riwayat lain, di akhir hayatnya Imam Al-Ghazali tetap mengajar di balai kecil yang ia bangun di samping rumahnya. Ia meninggal dunia pada usia 57 tahun (Rahimahullah). Ia meninggalkan jejak yang hebat dengan karya luhur di bidang Pendidikan Akhlaq maupun Syariah.Ia bahkan dikenal sebagai sosok yang merekonstruksi” paham Asyariyah , sebagajmana ia juga dikenal sebagai sebagai pembela Islam, “Hujjatul Islam”. 

Sungguh, inilah kisah kegalauan yang terbimbing dalam cahaya Allah. Kisah pencarian kebenaran  yang tidak menafikan Alquran dan Sunnah.

Taufik Sentana
Peminat Kajian Sosial Budaya.
(Rujukan: – Penyelamat dari Kesesatan, terjemah oleh Abu Ahmad Najieh. Penerbit Risalah Gusti, 1997. – 50 Ilmuan Muslim Populer, M. Razi, Qultummedia,2006).