Teheran – Musim haji tahun ini diperkirakan tidak akan diikuti oleh jemaah Iran. Negeri Paramullah menuduh Arab Saudi melakukan sabotase pengaturan haji untuk jemaah Iran.
Kondisi ini dipicu oleh ketegangan diplomatik yang dialami oleh kedua negara. Selain itu, insiden di terowongan Mina tahun lalu juga menjadi alasan. Delegasi dari Teheran melakukan pertemuan selama empat hari pada April lalu, untuk membahas urusan haji ini. Mereka bermaksud untuk mengatur kesepakatan agar warga Iran pergi ke Mekkah, melaksanakan ibadah haji pada September mendatang.
Ini adalah dialog pertama antara dua negara berpengaruh di Timur Tengah itu, setelah hubungan keduanya memburuk pada Januari lalu. Tetapi karena misi diplomatik Arab Saudi di Iran masih ditutup, pembicaraan pun berakhir buntu.
“Pengaturan tidak bisa dibahas secara bersama dan saat ini sudah terlambat,” ujar Menteri Budaya Iran Ali Jannati, kepada Kantor BeritaIRNA, seperti dikutip AFP, Jumat (12/5/2016).
“Sabotase datang dari pihak Arab Saudi,” lanjutnya.
“Sikap mereka sangat dingin dan tidak pantas. Mereka tidak menerima proposal kami terkait pengajuan visa ataupun transportasi dan keamanan dari para jemaah haji,” pungkas Jannati.
Jannati menyebutkan, pihak Arab Saudi mengharuskan jemaah Iran harus mengajukan visa ke negara lain demi masuk ke Mekkah.
Iran menginginkan Arab Saudi mengeluarkan visa melalui negaranya lewat Kedutaan Swiss di Teheran. Sejak penyerangan Kedutaan Arab Saudi di Teheran, Januari lalu, Kedutaan Swiss yang mengurus kebutuhan Arab Saudi di Iran.
Sementara Kepala Urusan Haji Iran Said Ohadi mengatakan, Arab Saudi menolak untuk mencabut larangan terbang bagi maskapai Iran yang ditugaskan untuk mengangkut jemaah haji.
Masalah keamanan menjadi salah satu alasan Arab Saudi bagi nasib jemaah Iran. 464 jemaah Iran tewas ketika terjadi peristiwa terhimpitnya jemaah haji di terowongan Mina. Insiden itu dilaporkan menewaskan 2.000 jemaah asing.
Hubungan Iran dan Arab Saudi tidak hanya memanas karena isu haji. Kedua negara juga terlibat konflik karena konflik regional, terutama keterlibatan keduanya dalam masalah di Yaman dan Suriah.
“Sayangnya di Arab Saudi memiliki pandangan politik yang tidak bersahabat terhadap Iran,” jelas Ohadi.
Arab Saudi dan Negara Teluk lainnya menjadi pendukung dari pemberontak Suriah yang berupanya melengserkan Presiden Bashar Al-Assad dari kekuasaan. Sementara Iran bersama Rusia, mendukung Assad dalam konflik yang sudah menewaskan 270 ribu jiwa itu.
Tidak hanya itu, Arab Saudi juga memimpin koalisi yang mendukung perlawanan Pemerintah Yaman. Mereka melawan pemberontak Houthi yang didukung oleh Iran.[] sumber: metrotvnews.com


