Sebelumnya, saat wabah ini belum merebak dan menembus jarak,
kota kota telah mati.
Kota kota itu mati karena keganasannnya sendiri,
karena tuntutan industri,
gaya hidup
dan kehendak ilutif.

Kota kota itu mati
karena berjalan dengan normanya sendiri : persaingan, persekongkolan
dan perebutan kongsi atau kesenangan.
Dilengkapi dengan semangat nilai bebas yang bernafas dalam liberasi.

Kini, kota kota itu, dimanapun dia
akan semakin tampak mati
tanpa mobiltas lazim dan keramaian.

Dan yang menghidupkan kembali kota itu adalah semangat baru orang orangnya dalam memaknai setiap kejadian,  serta kembali menata obsesi dan orientasi kita dalam membangun hidup.[]

Taufik Sentana
Peminat sastra pop.