Oleh Taufik Sentana
———-Tidaklah beriman seseorang itu hingga ia mencintai saudaranya yang lain sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri———- Hadis Nabi
Karena berhaji bukan semata peristiwa fisik, maka banyak kita dengar hal-ihwal metafisikal seputar haji. Haji akan selalu menjadi misteri sebab keterbatasan intelek kita saat ini dalam mempelajari rangkaian ritusnya. Semua yang berkaitan tentang haji, dari kota Mekkah, ka'bah, batu hitam, gelombang thawaf, air zam zam dan orang-orang di sekitarnya telah menjadi ikon cerita tersendiri.
Ka'bah sendiri telah diakui secara historis sebagai simbol tempat ibadah tertua yang pernah dibangun oleh manusia (baitul'atiq, sebutan Quran). Ini juga menandakan bahwa misi (risalah) para nabi yang membawa ajaran Tuhan Yang Satu adalah benar adanya. Hingga akhirnya seiring perjalanan waktu, faktor watak manusia, situasi geo-politik dan ekonomi, terjadilah ragam penyimpangan ajaran dan muncul pula ajaran non samawi dari konteks kebudayaan manusia.
Adapun batu hitam yang berada di sudut yamani ka'bah, secara fisikawi modern memiliki kekhususan karakter, elemen batunya dipercaya bukan dari kandungan bumi, sebagai bukti bahwa ia memang dibawa dari langit. Unsurnya pun dipercaya dapat menyerap energi, ( penulis berasumsi sebagai energi gesek karena putaran thawaf tidak sama dengan arah berputarnya bumi), perbedaan gaya putar ini memberi ruang gelombang magnetik yang diserap batu hitam tadi. Gelombang tersebut bereaksi dari ritme suara talbiyah yang berisikan pengakuan diri dan pujian bagi Rabb, Pemilik dan Pemelihara semesta.
Allah Maha Meliputi Energi
Bertautnya semesta luas (makro kosmos) dan manusia sebagai mikro kosmos dalam ruang-waktu yang sama dengan peristiwa yang sakral tentu dapat mengindikasikan terjadinya proses fisika kuantum, setidaknya dalam skala yang kecil. Suatu proses peralihan energi yang mengubah cahaya (sinar terpencar) menjadi ikatan cahaya (laser) sehingga berfungsi dalam beragam keperluan hidup.
Perihal energi yang kini telah berkembang menjadi bagian studi modern (Bio sub selular, misalnya) disinyalir juga keberadaan energi tadi dalam sistem hidup” DNA, ( yang dinamis dan saling memberi informasi saat sel-sel terbentuk dan berlangsung terus), sehingga Benarlah Allah Yang Menyebut DiriNya sebagai Maha Tahu dan Maha Meliputi.
Dasar inilah yang menjadikan penulis terdorong untuk menamai kunjungan ibadah ke Mekkah dengan kuantum haji: suatu prosesi energi dalam skala besar yang menyatukan dan diharapkan memberi efek manfaat lebih besar setelah para hujjaj kembali ke kampung halaman mereka.
Lompatan Kuantum:
Prinsip Kesatuan Ummat
Prinsip ini berlandaskan pada keyakinan bahwa idealita kehambaan kita hanya bermuara ke Satu Tuhan. Keyakinan ini diharapkan dapat mendobrak sekat suku dan dan ras sehingga potensi ummat dapat terberdayakan ke hal yang lebih utama. Dengan prinsip ini seorang yang berhaji mesti meyadari realita bahwa ada perbedaan- perbedaan yang bisa kita terima tanpa saling menghina (sebagai kefasikan) dan merendahkan. Dalam ritus haji, semua unsur kesatuan ini terbangun secara konsisten yang diharapkan terpancar dalam interaksi dengan sesama manusia lainnya.
Prinsip solidaritas
Solidaritas merupakan satu kata yang paling ditekankan oleh Ibnu Khaldun dalam studi Mukaddimahnya. Solidaritas ini sebagai perekat kesatuan yang dimaksud dalam paragraf di atas. Sistem sosial yang baik diasumsikan bermula dari sikap solid (padu dan kokoh) anggota masyarakatnya hingga terpola interaksi yang saling memengaruhi dalam mencapai tujuan bersama. Solidaritas tadi diantaranya terdiri dari pengertian, saling menolong, dan saling percaya.
Prinsip Kebangkitan Ummat
Pada era kolonial di Indonesia, berhaji menjadi ajang konsolidasi ummat dalam rangka melawan penjajah. Sekarang, pada era yang lebih terbuka dan penuh alternatif kebangkitan, semestinya menjadikan kita semakin mudah dalam menyepakati ragam perkara kepentingan ummat tanpa merusak hubungan antarummat beragama lainnya. Diantara PR keummatan kita ialah perihal tingkat kemiskinan, akses pendidikan, hegemoni politik dan ukhuwwah.
Dalam skala praktisnya, perhimpunan haji, misalnya bisa memberdayakan potensi pendidikan Islam dengan bantuan beasiswa untuk pelajar yang berprestasi. Inilah langkah kecil menuju kebangkitan ummat.
Demikianlah tiga lompatan kuantum yang selazimnya terpancar lewat para hujjaj saat berinteraksi di kota suci dan tatkala mereka kembali ke masyarakatnya. Karena sudah menjadi kekhasan Islam, bahwa setiap ritus ibadah individual selalu beriris dengan ibadah” sosialnya.
Sehingga orang yang telah berhaji diharapkan dapat memberikan warna energi sosial yang baru dan itu menjadi bukti kemabruran ritual haji mereka. Agar tanda energi baru yang dimaksud tampak nyata dan sebanding dengan jumlah kuota haji yang rerus bertambah di daerah kita.
Wallahu a'lam.[]
Taufik Sentana, Guru di Mts Harapan Bangsa dan Anggota Tim Mutu di Yayasan Almaghribi, Meulaboh. Staf Ikatan da'i Indonesia serta sangat tertarik terhadap fisika kuantum yang dikaitkan dengan studi gelombang suara orang-orang yang membaca Quran.






