Sejak tangis pertama
kita telah kehilangan kunci itu
sampai kita mengenal
makna ada.
Sedang sebelumnya
kunci itu melekat
pada pada tangkai jiwa
dan menyelinap dalam
pengalaman ketidaksadaran
yang teramat fitrah.
Lalu kunci itu menggeletar
pada benda benda dan keinginan
sampai kita memahami
hakikat suka dan luka
atau mencerna aroma cinta dan benci.
Sejak tangis pertama itu
(sedang kita tak menyadarinya),
kunci bahagia itu tetap tergeletak di dekat kita
kemudian terhampar
pada ruang dan peristiwa,
hanya saja mata hati ini
tak menoleh padanya
dan tangan ini sibuk mengais
yang akan hilang.[]
Taufik Sentana
Dalam “Password Kebahagiaan”, 2019.


