BLANGKEJEREN — Kecamatan Putri Betung, Kabupaten Gayo Lues mampu menghasilkan komoditas coklat hingga 50 ton per minggu, tapi karena lahan warga tidak masuk data Badan Pusat Statistik (BPS) maka Putri Betung menjadi daerah termiskin di negeri seribu bukit tersebut.
Sekretaris Daerah (Sekda) Gayo Lues, H Thalib, Rabu, 19 Februari 2020 dalam Musrembang di Kecamatan Putri Betung mengatakan, Dinas Pertanian dan Dinas Lingkungan Hidup harus segera membuat MoU dengan KPH pinjam pakai lahan atau pembebasan lahan hutan lindung di Kecamatan Putri Betung, sehingga kepemilikan lahan bisa diakui dan masuk data Badan Pusat Statistik (BPS).
“Di Kecamatan Putri Betung ini banyak sekali hasil dari perkebunan dan pertanianya, baik itu coklat, kemiri, kopi, durian maupun jahe, namun masyarakatnya tetap dikatakan miskin, semua itu karena BPS tidak mengakui kepemilikan lahan oleh warga,” katanya.
Menurut H Thalib, lahan yang diduduki masyarakat Kecamatan Putri Betung baik perumahan maupun lahan perkebunan dan pertanian kebanyakan berada di area hutan lindung, dan solusi satu-satunya adalah membuat MoU agar perkebunan masyarakat bisa dibebaskan.
“Secara kasat mata, siapapun yang datang ke Kecamatan Putri Betung ini tidak akan percaya bahwa warga di sini yang paling miskin, hasil perkebunan banyak, perputaran uang juga tidak kalah dengan kecamatan lain, malahan lebih banyak disini karena perputaran hasil buminya sangat bagus,” jelasnya.
Camat Putri Betung, Muhammad Jon usai Musrembang mengatakan, seluruh masyarakat Putri Betung berharap kepada pemerintah agar membebaskan perkebunan warga dari kawasan hutan lindung.
“Kami menjamin tidak merusak flora dan fauna yang berada di kawasan Hutan Leuser ini. Buktinya, beberapa hari yang lalu juga ada masuk kawanan gajah kepemukiman, tapi kami tidak mengganggunya, hewan itupun makan sendiri, dan kembali ke hutan tanpa meruak perkebunan warga,” katanya.
Kepemilikan lahan kata Camat Putri Betung sangat dibutuhkan warga untuk menunjang ekonomi, dan menetapkan hati masyarakat supaya tidak selalu dalam keadaan risau ketika mendegar wilayah mereka masuk kawasan hutan lindung. [Win Porang]



