KAIRO – Tradisi Ramadhan memiliki kisah unik di berbagai belahan dunia tak terkecuali di Mesir. Salah satunya kebiasaan memasang lentera Ramadan atau umum dikenal sebagai Fanoos dalam bahasa Arab. Lampu ini menjadi simbol yang menghiasi bulan suci umat Muslim di Mesir.
Masyarakat Mesir yang umumnya akan membersihkan rumah mereka saat memasuki bulan puasa tak lupa memasang lampu fanus baik di dalam maupun di luar rumah. Lampu Fanus menjadi karakteristik khas masyarakat Mesir dalam menyambut Ramadan. Hal ini dibuktikan dengan menjamurnya Fanus di sudut perkotaan dan pedesaan Mesir. Bahkan tak sedikit warga Mesir sampai patungan untuk membeli dan memasang lampu fanus di jalan-jalan.
Fanus, layaknya sebuah lampu sebagai sumber cahaya. Filosofinya identik dengan Bulan Ramadan. Ramadan diumpamakan sebagai cahaya penerang kehidupan kaum muslimin. “Lampu Ramadan” diharapkan dapat menuntun ke jalan yang terang dan semakin bertakwa kepada Allah.
Biasanya, sepekan sebelum Ramadan tiba, para pengrajin fanoos sudah mulai bekerja membuat kerajinan tangan ini. Saat itu, beberapa jalanan kota di negeri asal Piramida itu akan diramaikan oleh para pembuat fanus. Kebanyakan dari para pengrajin tersebut membuka lapak-lapak kecil di tepi jalan.
Lampu ini menjadi semakin indah karena aktivitas warga Mesir yang selama bulan Ramadan justru begitu crowded pada malam hari. Warga Mesir meramaikan setiap sudut kota dari sejak bada Isya hingga Adzan Subuh. Kegiatan mereka biasanya mencari makanan untuk sahur dan menghabiskan waktu bersama keluarga dan orang-orang terdekat. Saat beraktivitas di malam hari ini orang dewasa Mesir banyak mengajak anak-anak ikut serta.
Saat Ramadan tiba, para orang tua di Mesir juga membelikan anak-anak mereka lampu fanus kecil. Lampu fanus itu menjadi mainan yang sangat menyenangkan bagi mereka. Pasar anak-anak inilah yang menjadi sasaran produk Cina. Pada beberapa tahun terakhir, bentuk baru dari Fanus yang kebanyakan diekspor dari Cina dan Taiwan mulai menjamur di berbagai pasar pedesaan dan perkotaan Mesir menjelang bulan Ramadan.
Fanus-fanus ini bahkan tidak lagi dibuat dari kaca, tapi dari plastik. Peran lilin pun telah digantikan oleh bohlam yang dinyalakan dengan baterai. Tersedia dalam berbagai ukuran. Kegunaannya bisa sebagai gantungan kunci, pajangan, dll.
Biasanya fanus-fanus ini berbentuk seperti burung, mesjid dan bentuk-bentuk lain yang menarik anak-anak. Fanus-fanus ini dilengkapi dengan kaset kecil berisi lagu-lagu Ramadan, doa, dan lagu-lagu populer.Fanus-fanus berbentuk bulat mirip lampu-lampu perayaan Imlek semakin menggeser budaya asli Mesir. Kesan awal tentang fanus pun makin berubah, Fanus yang sekarang beredar lebih mirip untuk peringatan hari waisak atau tahun baru imlek.[]SUMBER:INILAH.COM



