Masih teringat di benaknya peristiwa dua tahun lalu. Wanita berdarah Skotlandia bernama Larissa Bennet ini hendak mencari suasana baru. Bosan dengan tanah kelahirannya. Dari negeri asal, Wanita muda ini terbang ke negeri warisan peradaban kuno: Mesir.
Kesehariannya dihabiskan di sebuah resor yang indah lengkap dengan beragam fasilitas. Di negeri yang beberapa kali mengalami pergantian penguasa itu dia bekerja, menjalin pertemanan. Ketika itu, tak sedikit pun berencana untuk menjalin hubungan dengan pria asing, tapi kenyataan berkata lain. Dia dekat dengan seorang pria Mesir. Seiring waktu berjalan, dua sejoli ini men jalin hubungan yang serius. Keduanya bah kan merencanakan untuk hidup bersama.
Suatu hari Bennet menyaksikan suatu hal tak biasa tentang pria yang dicintainya ini. Sang pacar menjadi lebih sering menjalankan shalat baik sunah maupun wajib. Juga berpuasa meski bukan pada Ramadhan. Saat duduk mengisi keko songan, pria ini mendengarkan ceramah ulama, me nangkap pesan takwa yang mereka sampaikan sehingga menginspirasi kehidupan.
Namun, bagi Bennet ini bukan hal biasa. Bennet mengkhawatirkan kekasihnya menjadi taat menjalankan Islam. Bennet ketika itu berprasangka buruk, bahwa Islam adalah agama yang tidak menghargai perempuan.
Tanpa menelusuri dan mempelajari Islam, wanita yang ketika itu memeluk Kristen ini berprasangka, jangan-jangan suatu hari nanti, kekasih itu akan menjadi garang terhadap dirinya, menghardik, bahkan menganiayanya. Sungguh hal itu sangat saya takutkan, tulis Bennet dalam portal aboutislam.com
Dia berupaya untuk menjauhkan kekasihnya dari Islam, tapi tidak bisa. Pria itu tetap konsisten menjalankan syariat yang sudah mendarah daging. Tak berhenti di situ, dia membaca literatur tentang Islam dengan maksud men cari kelemahan agama tersebut. Bah kan, dia membaca Alquran hingga sampai pada Ramadhan.
Pada bulan suci ini, dia diajak berkumpul bersama keluarga sang kekasih di Mesir. Di sana mereka menjalankan kebiasa an keluarga, seperti mendalami makna Alquran pada siang hari sambil menunggu waktu berbuka puasa. Bennet bersikap seperti biasa tinggal bersama keluarga kekasihnya. Tidak ada rasa canggung meski berbeda keyakinan.
Mereka saling menegur dan menyapa sehingga akrab. Bahkan, Bennet ikut berpuasa selama lima hari sehingga larut dalam kebersamaan ketika sahur dan iftar. Sungguh ini merupakan hal yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. “Ini adalah lima hari ajaib yang tidak akan pernah saya lupakan,” jelas dia.
Semakin lama mendalami Islam dari sumber autentik dan tepercaya, Bennet justru tidak menemukan kelemahan agama ini. Hatinya kian melembut. Tak lagi meng anggap Islam sebagai ancaman kehidupan. Risalah yang dibawa Nabi Muham mad telah banyak mewarnai kehi dupannya.
Namun demikian, wanita scottish ini belum terpikir menjadi Muslim. Tetap pada keyakinannya sebagai Kristen. Bahkan, ketika kekasih melamar, Bennet tetap ingin dinikahi sebagai seorang Kristen. Lelaki itu menyetujui usulannya.
Setelah menikah, suaminya tak lelah menerangkan tentang Islam, ketuhan an, kehidupan dunia, dan akhirat. Karena disampaikan secara santun, Bennet merasa tersentuh. Kian ha ri, relung hatinya dipenuhi dengan ke imanan dan keislaman yang rahmatan lil 'alamin.
Ada pertanyaan yang mengganjal hati, bagaimana Islam menjadi relevan bagi kehidupan semua insan. Aga ma ini lahir dan berkembang di ja zirah Arab, apakah cocok bagi orang Aus tra lia, Asia, Amerika, dan lainnya?
Kenyataan yang dilihatnya kini, agama Islam dipeluk oleh banyak orang dari berbagai belahan dunia, menembus berbagai batasan. Pemeluknya semakin banyak meski Islam terus-menerus menjadi target fitnah, caci-maki, dan stigmatisasi negatif berbagai tokoh.
Pada akhirnya dia hanya ber patok an pada makna Islam: berserah diri dan kedamaian. Hati menjadi damai. Jiwa menjadi tenang. Dipenuhi dengan keyakinan menjalani kehidupan fana.
Bersyahadat
Setelah pencarian Islam selama dua tahun, Bennet membuat keputusan penting dalam hidup. Belum lama ini dia berjalan ke Masjid al- Azhar Kairo. Di sana dia menemui dua orang syekh. Di hadapan ke duanya, Wanita pe ngem bara ini bersaksi tak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Maka, sejak itu statusnya sudah menjadi Muslim.
Dia juga mempelajari Bahasa Arab sedikit demi sedikit. Kehidupannya yang semula berwisata, uang, berias, dan pesta-pesta, kini ditinggal kannya. Bennet kini tampil mengenakan hijab yang mengkhususkan helaian rambut dan auratnya untuk suami tercinta.
“Seluruh perspektif saya tentang ke hidupan, orang, teman, dan keluarga berubah. Saya menjadi lembut dalam bersikap, tapi penuh percaya diri mengambil keputusan,” jelas dia. Dengan memeluk Islam, dia menjadi pribadi yang lebih jujur. Meyakini bahwa Muhammad adalah teladan umat Islam, termasuk dirinya.
Dia juga lebih berani menjalani hidup, tetapi lebih takut kepada Allah SWT. Mulai menyadari bahwa hidup ini adalah ujian, tapi dia tetap melaluinya. Betapa indahnya Islam. Satusatunya agama yang memanggil orang untuk shalat lima kali sehari.
Ketika azan berkumandang, hati menggerakkan jasad untuk bersuci dan bersim puh di hadapan Ilahi Rabbi. Benner rutin membuat konten di blog pribadinya ShukrallahBlog. Blog pribadi dimanfaatkannya untuk dak wah kepada mereka yang masih salah paham mengenai Islam.[]Sumber:republika







