AKLIMA pagi itu sedang bersama anaknya Maulidina yang masih berumur belum mencapai usia 2 tahun di rumahnya di Dusun Jabi, Gampong Lhok Timon, Aceh Jaya. Pagi 26 Desember 2004 itu suaminya Abdullah bin Baihaqi sedang pun sedang melaut.

Gempa pun terjadi, Aklima bersama putrinya keluar dari rumah dan karena bingung akhirnya memilih ia duduk diaspal dan saat itu ia menyaksikan betapa rumah-rumah penduduk rubuh dan burung-burung yang sedang terbang juga berjatuhan ke tanah, segala jenis binatang bersuara memekik ketakutan, padi-padi di sawah hilang teraduk bersama lumpur.

Setelah terjadi gempa dahsyat itu ia mendengar suara ledakan yang sangat besar, yang tak tau dari arah mana datangnya, hingga orang-orang di kampung mengira itu adalah suara ledakan bom karena kebetulan waktu Aceh masih dalam situasi perang antara GAM dengan RI.

"Suara ledakan itu persis seperti suara air terjun, dan setelah itu air laut pun tiba-tiba surut ke laut hingga masyarakat bisa menyaksikan ikan-ikan tergeletak di atas laut yang seakan mulai kering," kata Aklima kepada portalsatu.com/ pada 26 Desember 2018, tepatnya di hari Aceh sedang peringati 14 tahun musibah tsunami.

Aklima menyaksikan sekitar 300 penduduk saat itu memilih menyelamatkan diri bersama keluarga ke mesjid terdekat. Namun ia sendiri juga berniat ke mesjid itu namun tiba-tiba terhalang oleh air yang datang tiba-tiba. Di arus air yang datang itu terlihat  beberapa rumah penduduk ikut mengapung terbawa arus dalam keadaan masih utuh. Kemudian terdengar suara penduduk berteriak memberitahu bahwa itu adalah air laut.

“Saat kami mencoba menyelamatkan diri ke bukit sementara gempa susulan masih terus terjadi, kami pun sempat melihat pada tiang-tiang listrik mulai terlihat mengeluarkan percikan-percikan api dan satu persatu tumbang hingga mengenai beberapa penduduk,” katanya.

Saat itu air pun secara bersamaan datang dari arah empat penjuru menuju kampung Lhok Timon hingga membuat para penduduk yang menyadari telah terkepung kepanikan pun semakin menjadi dan medeka terus berusaha mencoba menyelamatkan keluarganya masing-masing.

Di saat Aklima sedang menyelamatkan diri dari jebakan air yang datang dari depan dan belakang, karena ia sedang berada diantara dua bukit di kiri-dan kanan bersama putrinya yang masih kecil, dan dalam rasa  ketidakberdayaan, kemudian terbersit di hatinya andai saja ada yang menolong. Disaat ia sedang dilanda oleh ketakutan yang luar biasa kemudian tiba-tiba di arah bukit sebelah kanannya melihat seorang bersurban memanggil.

“Nak kemarilah,” kata lelaki bersurban.

Orang bersurban itupun menarik tangannya dan menyelamatkan ke gunung. lelaki bersurban itu menolongnya, dan berpesan supaya tidak melihat ke belakang. Setelah orang bersurban itu menolongnya yang tadinya datang secara tiba-tiba kemudian setelah itu menghilang kembali tanpa jejak.

“Hari itu kami sangat ketakutan dan menyangka itulah yang dinamakan kiamat,” kata Aklima.

Melihat Aklima sangat sedih setelah melihat air yang datang dari empat arah itu menghancurkan kampungnya,  menyaksikan perkampungan itu telah berubah menjadi seperti lapangan yang sangat luas, kemudian salah seorang 

Penduduk kampungnya yang kebetulan juga berhasil menyelamatkan diri memintanya untuk terus berzikir mengingat Allah SWT.

“Nak jangan menangis, berzikirlah saya juga disaat seperti ini lebih mementingkan Alquran daripada harta benda, ini hanya satu mushaf Alquran saja yang berhasil saya selamatkan,” kata Teungku itu pada Aklima.

Hari itu sekitar pukul 5 petang air pun surut namun bersamaan dengan itu pula air laut kembali pasang. Penduduk yang selamat dari musibah itu pun mulai merasa harus kembali, tapi kemana? sementara rumahnya telah tiada, dan perkampungan kini telah menjadi lapangan, listrik telah tiada, manyat bergelimpangan di mana-mana.

“Mulai hari itu kami mencoba menjalani kehidupan di hutan, makan pisang, kelapa, bahkan batang pisang, dan terkadang para penduduk yang selamat terpaksa harus menangkap sapi-sapi yang selamat saat musibah untuk disembelih, sementara untuk air minum kami mengambilnya di kubangan bekas kerbau mandi,” kata Aklima.

Sapi-sapi itu kemudian dipanggang dengan tanpa mencuci dan tanpa garam. Setelah masak lalu diletakkan di pinggir jalan dan saling berpesan supaya memberitahu kepada penduduk lainnya yang belum makan supaya mengambil.

Di hari kedua tiap warga masing-masing mulai mencari keluarganya. Saat itulah diketahui dari jumlah 300 orang yang menyelamatkan diri ke mesjid hanya 7 orang saja yang selamat. Kemudian setelah menemukan anggota keluarganya yang selamat, tiap keluarga itu pun kembali masuk ke hutan untuk mencari tempat berteduh bersama keluarganya.

“Kami naik turun antara satu gunung ke gunung lainnya melintasi hutan yang ditumbuhi oleh rotan dan duri-duri, dan Alhamdulillah, Allah SWT menyelamatkan kami,” katanya.

Aklima mengatakan ketika itu diantara masyarakat yang selamat ada seorang wanita sedang hamil tua yang akan melahirkan hingga pada suatu malam terpaksa harus dilarikan ke sebuah gua yang masyarakat di sana menyebutnya 'Guha Rimung' yang terkenal akan sangat banyaknya pacat, namun waktu itu pacat itu tak seorang pun dihinggapinya.

“Persalinan yang berlangsung malam itu pun terlaksana hanya dengan menggunakan peralatan parang saja,” kata Aklima.

Setelah seminggu lebih berada di hutan, datanglah helikopter-helikopter berputar-putar di ketinggian dan terlihat tak berani mendarat karena waktu itu Aceh masih dalam situasi darurat meliter. Kemudian penduduk melambaikan kain merah ke udara hingga setelah itu helikopter yang datang kemudian mulai membawa  air minum dan makanan melempar dari udara tanpa mendaratkan heli. 

“Di saat bantuan mulai datang melalui darat kami masing-masing mulai mendapatkan jatah satu mod beras perorang,” kata Aklima.

Tanda-tanda dan peringatan sebelum terjadi tsunami, Aklima mengatakan fenomena yang terjadi sebelum terjadi tsunami setiap hari penduduk Aceh Jaya mencium bau amis yang menyengat seperti bau karang di laut.

Setelah musibah itu terjadi pada 26 Desember 2004 juga penduduk kembali teringat akan sebuah pesan tentang akan datangnya air laut menerjang perkampungan yang pernah disampaikan oleh Abu Ibrahim Woyla. Namun saat mendengar itu masyarakat tak percaya.

 

“Nyoe gampong nyoe akan ji-ek ie 'eh no, mungken leubeh manyang darinyoe ie” kata Abu sambil menggaris, menanda di salah satu pohon.[]