DULU di daerah Aceh Besar ada sebuah keluarga miskin yang terdiri dari seorang anak laki-laki dan ibu. Anak laki-laki tersebut bernama Amad Ramanyang. Sang Ibu harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Hal ini disebabkan ayah telah meninggal dunia. Amad Ramanyang merupakan anakyang pandai namun sedikit nakal dan bandel. Saat telah beranjak dewasa dia merasa kasihan dan iba kepada ibunya yang bekerja siang malam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Lantas Amad merencanakan untuk pergi merantau kenegeri seberang. 

Keesokan harinya dia duduk dengan ibu dan bermusyawarah. “Ibu, saya ingin pergi kenegeri seberang untuk bekerja membantu meringan beban ibu,” pinta Amad.

“Nyak Amad  jangan tinggalkan bu sendiri, ibu hanya punya kamu, nak,” jawab ibu dengan nada sedih dan menolaknya.” 

“Bolehkah bu izinkan saya pergi, ibu saya sangat kasihan melihat ibu bekerja siang malam, padahal ibu sudah umur lanjut,” ucap Amad.

“Kalau begitu baiklah nak, tapi satu pesan ibu, jangan lupakan ibu dan gampong ini ketika kamu sukses nanti nak,” pinta sang ibu dengan penuh berharap dan berdoa disertai berlinang airmatanya.

Ibupun menyiapakan semacam seromonial dan tepung tawar agar perantauannya berkah dan sukses nantinya. Keeseokan harinya ibupun mengantar hingga ke pelabuhan disertai dengan rombongan warga gampong itu untuk melepas kepergian Amad Ramanyang sebagai putra satu-satunya itu. Pergilah Amad dengan sebuah kapal ke negeri seberang.

Sekian lama bekerja dan berusaha dengan giat dan kerja keras, dengan untaian doa orang tuanya yang selalu berdoa saban hari,bahkan ibunya selalu bermimpi bertemu dengan anak semata wayangnya. Akhirnya Amad  ramanyang menjadi orang kaya sukses dan mempunyai banyak kekayaan berupa kapal barang, kapal penumpang dan sejumlah kekayaan lainnya dan dinegeri tersebut Amad orang terkaya nomor satu serta di kenal sangat  sosial membantu masyarakat kurang  mampu dan miskin. Amadpun menikahi seorang putri cantik dan seorang anak terhormat disana.

Rupanya berita keberhasilan dan kesuksesan Amad sampai juga ke telinga ibu lewat perantau yang bekerja satu daerah dengan Amad dan sang ibupun merasa sangat senang dan bahagianya. Karena tidak ada alat komunikasi, ibu selalu menunggu dan memperhatikan dipinggir pelabuhan untuk melihat anak semata wayang nya tersebut. Saban hari demikian dan  selalu berdoa agar anaknya bisa kembali bertemu dengannya setelah hampir 20 tahun lebih berpisah.

Pada suatu hari istri Amad bertanya perihal ibu Amad dan sangat ingin bertemu dengannnya. Amad tidak dapat menolak keinginan istri yang sangat di cintainya. Amad menyiapkan perjalanan untuk pulang ke kampung halamannya di Aceh sekitar Krueng Aceh dengan kapal pribadi yang sangat megah dan besar beserta dengan istri. Para pengawal pribadi dan awak kapal juga ikut bersama-sama. Mendengar khabar tersebut, sang ibupun menyiapkan nasi dan lauk pauk laksana menyambut seorang raja dan seketika itupun ibunya telahmenunggu di tepi pantai dengan penyambutan nan istimewa.

Tiba-tiba sepasang suami istri turun dari kapal,s ang ibu menghampiri, ”Apa itu engkau Amad, anakku? ini ibu mu, masih ingatkah, nak?” Tanya sang ibu. “Amad Ramanyang, engkau anakku, kenapa pergi begitu lama tanpa khabar sepatahpu?” pintanya sambil memeluk Amad Ramanyang dan seketika itu istri Amad terkejut melihat wanita tua, dekil, berpakaian lusuh dan berbau itu memeluk suaminya sambil berkata: “Ini wanita tua, berpakaian lusuh, dekil dan berbau merupakan ibumu Amad”. Amad merasa malu dengan istrinya dan melepaskan pelukan sang ibu sambil mendoronghingga terjatuh.

“Kamu wanita tua yang miskin, saya tidak kenal kamu” Ucap Amad.“
“Dasar wanita tua tidak rasa malu dan tahu diri, enak saja mengaku sebagai ibu ku” tambah Amad dengan nada membentak.

Sang ibu tersentak dan merasa sedih serta marah mendengar ucapan anak kandung yang sangat dia sayangi dan tidak mendugaseperti itu perkataannya menjadi anak durhaka.

“Ya tuhanku,jika dia anakku, saya mohon berilah dia azab dan berubah dia menjadi batu,” pinta doa sang ibu dengan murkanya. Tidak lama setelah itu angina dan kilat serta petir bergemuruh menghantam dan menancurkan kapal milik Amad Ramanyang. Akhirnya tubuh dan seluruh anggota badan Amad Ramayang berubah kaku dan menjadi bongkahan batu serta menyatu dengan karang. Sampai sekarang bebatuan tersebut masih ada dan menjadi saksi bisu kedurhakaan seorang anak terhadap orang tuanya.


Helmi Abu Bakar el-Langkawi, Mahasiswa PPs STAIN Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh
Pengajar di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, Bireuen. lamkawe82@gmail.com. 085277842982