BAGAIMANA caraku mengingatnya. Seorang gadis kecil yang lincah dan bersemangat selalu, Zahra namanya. Gadis ini dilahirkan sebuah klinik bersalin di tengah Kota Banda Aceh. Cuma dia yang dilahirkan di klinik bersalin, adik dan abangnya, semua dilahirkan di rumah.

Pada hari itu, sebagaimana biasa, ibunya memeriksa kandungan ke klinik bersalin. Ia memperkirakan buah hatinya akan lahir dalam beberapa hari ke depan. Namun, pada hari itu, perawat melarangnya pulang karena bayi ingin segera keluar. Dan, benar saja, beberapa saat di klinik, seorang bayi perempuan muncul. Seorang Zahra kecil. Itu kebahagiaan luar biasa bagi sang ibu dan ayah, sudah ada anak perempuan setelah beberapa anak sebelumnya laki-laki.

Zahra memiliki ibu yang penyayang, dan para saudara yang pengasih. Ia punya seorang ayah yang menyayanginya dengan sepenuh hati. Ayahnya seorang sarjana sejarah FKIP Unsyiah, juga sarjana PGSLP bidang bahasa Inggris. Ayahnya pernah belajar tiga bahasa di LBA (Lembaga Bahasa Asing) Inggris, Jerman, dan Perancis.

Ayahnya kepala SD. Ia ingin selalu ikut ayahnya pergi kerja. Ia memaksa diri masuk ke sekolah SD walaupun berkali-kali dikatakan bahwa usianya belum cukup untuk itu.

Namun ia terus memaksa, karena ia tahu ayahnya sangat meyayanginya, pasti ayah akan membelanya. Dan benar, ia diizinkan bersekolah, walaupun masih buang air besar di kelas. Itu menyenangkannya, bisa ikut pergi dan pulang sekolah bersama ayahnya.

Ia memaksa, memaksa pergi ke sekolah wlaupun belum masanya. Ini mengingatkanku bagaimana ia memaksa lahir di klinik bersalin dalam wilayah kota, sehingga di antara para saudaranya, hanya dia yang lahir di wilayah kota, dan di klinik bersalin.

Sepulang sekolah masa SD itu, ketika sampai di rumah, ia mengotak-atik mesin ketik besar milik kepala sekolah SD yang dibawa pulang ayahnya ke rumah supaya bisa menyelesaikan tugas sekolah di rumah. Zahra kecil suka menulis, mengetik di mesin tik tik tik. Dalam beberapa waktu saja, ia sudah mahir mengetik dan dipercayakan ikut mengetik yang merupakan tugas ayahnya, asisten pribadi kepala sekolah.

Saat bermain bersama teman-temannya, Zahra kecil membuat permainan kelas-kelas belajar. Ia sebagai guru, dan para kawannya sebagai murid. Kalau pagi pergi ke sekolah sebenarnya, jika sore maka ia membuat sekolah-sekolahan, karena di sekolah sebenarnya ia murid, tapi di sekolahan di halaman rumahnya, ia menjadi guru yang para murid adalah anak SD seusianya juga. Pada malam hari, Zahra kecil mengaji di rumah kakak ibunya.

Selain bermain sekolah-sekolahan, Zahra kecil bermain bersama anak lain. Karena di rumah terbiasa bermain dengan saudaranya yang semua laki-laki, ia pun bermain bersama anak laki-laki, bermain sepakbola. Kadang, Zahra kecil juga berkelahi dengan anak laki-laki itu.

Zahra kecil, saat hampir tamat SD, kadang pulang bersama mobil tentara, karena kawannya anak tentara. Kadang tidak langsung ke rumah, tapi ke Mata Ie. Lalu supir mengantar balik anak-anak yang di luar kompkleks tentara. Begitupun saat SMP, sesekali.

Setelah tamat SMP, Zahra remaja bersikeras masuk akademi keperawatankarena salah satu abangnya kuliah jurusan dokter. Ia menolah saran siapapun yang melarangnya. Sampai akhirnya, ayahnya, yang tidak pernah melarang apapun yang dibuatnya, bicara.

“Memangnya kamu mau pegang-pegang luka orang?” tanya Ayahnya, yang tahu benar Zahra kecilnya yang telah remaja tidak pernah menyukai itu.

Duarr!

Mitos bahwa masuk kademi keperawatan adalah keinginan besarnya lenyap seketika, dan ia tidak ingin masuk akademi keperawatan atau kedokteran. Tidak mau pegang-pgang luka orang. Maka Zahra kecil pun masuk jurusan tataboga di FKIP Unsyiah. Ia memilih tataboga karena tatabusana telah dipelajarinya di SMK.

Namun, sang ayah yang sangat menyayanginya, pada suatu ketika diserang penyakit aneh. Setelah dirawat sekian lama, yang zahra kecil sering di dekatnya, sang ayah yang baik hati yang dicintai oleh seluruh guru dan masyarakat sekitarnya itu pun dipanggil ilahi. Itu adalah tahun-tahun kesedihan zahra remaja. Namun ia terus belajar dengan baik di sekolah.

Di SMK, ia belajar menjahit pakaian perempuan, supaya sama pandai dengan ibunya yang punya keahlian menjahit. Dalam masa itu ia mulai membuka usaha menjahit baju perempuan di rumahnya. Pelanggannya pun banyak sehingga ia harus memakai beberapa orang tukang jahir lain untuk membantunya.

Seusai di SMK, ia masuk jurusan tataboga di FKIP Unsyiah. Ia memilih tataboga karena tatabusana telah dipelajarinya di SMK. Banyak cara membuat dan menyajikan kue dipelajarinya di sini, termasuk masakan khas Aceh. Ia pun pernah meramu resep sebuah puding, puding janeng. Janeng adalah gadung hutan yang beracun. Orang-orang biasanya mengolahnya dan mengeringkan dulu, sebelum dijadikan makanan.

Hampir bersamaan waktu kuliah di tataboga, Zahra yang menjadi gadis muda ingin melanjutkan cita-cita kecilnya, menjadi guru. Ia ingin melanjutkan pendidikan jurusan kuliah lagi setelah lulus di tataboga. Di strata dua disyaratkan menguasai bahasa Inggris, maka Zahra berpikir, daripada mengikuti kursus lebih baik mengikuti sistem akademik strata satu bahasa Inggris, lebih bagus. Maka Zahra pun mengkuti pendidikan strata 1 bahasa Inggris di universitas lain, Universitas Serambi Mekkah.

Setelah usai kuliah strata satu tataboga dan bahasa Inggris, Zahra yang kini menjadi seorang gadis muda mendaftar kerja sebagi pengajar bantu di STKP BBG Banda Aceh. Kemudian, ia mendaftarkan beasiswa dan lulus, maka ia pun mengikuti sistem akademik strata dua jurusan manajemen pendidikan di sekolah pascasarjana Unsyiah.

Saat itulah aku mengenalnya, saat mengajar di STKPI BBG dan kuliah pascasarjana strata dua di Unsyiah. Itulah awal cerita kami, sebuah kisah yang menurutku mengagumkan. Tatakala aku berjumpoa dengan seorang Zahra, … yang tercinta.

Sekira beberapa waktu setelah lulus strata dua manajemen pendidikan, ia mendaftarkan diri di sistem akademik sekolah pascasarjana strata tiga jurusan manajemen pendidikan, sekaligus mendaftarkan beasiswa di Dikti. Lulus, maka ia mengambil tugas belajar dari STKIP BBG. Karena tugas belajar, ia berhenti mengajar untuk sementara, tapi masih melanjutkan tugasnya sebagai pembimbing beberapa mahasiswa yang ditugaskan padanya.

Biasanya, yang dari Banda Aceh kuliah pascasarjana di Medan, akan menetap di kota Melayu itu, karena dalam bus antara Banda Aceh ke Medan memakan waktu sekira dua belas jam. Namun tidak dengan Zahra, ia pulang pergi setiap minggu dari Banda Aceh ke Medan. Ia yang tidak pernah merantau terlalu sedih untuk meninggalkan rumahnya walaupun hanya beberapa hari. Begitulah terus, sampai ia menjadi Ph.D.[]

Thayeb Loh Angen, penulis novel Aceh 2025.