Karya Taufik Sentana*
1//
Laut membuat hatinya terpaut,
sedari kecil, sejak pasir pasir pantai yang jinak bertabur di sekujur tubuhnya.
Ada pohon nipah berderet,
ada nyiur melambai
dan burung burung terbang
ada batu batu kecil,
ada gelombang pasang
ada pula deru derai ombak
yang menghempas rasa takut.
2//
Lelaki itu menyukai asin laut, sebagaimana ia menyukai buah nipah yang khas,
yang dagingnya mirip rambutan, tapi beda manisnya. Ia bisa menyemat daunan nipah itu menjadi helaian atap.
Lelaki itu meyukai kecipak ombak di tepi laut atau bahkan di tengahnya, saat sesekali ada ikan terbang melompat lalu hilang di kedalaman, ia menyukai itu sebagaimana ia menyukai kawanan nelayan yang pulang sambil membawa hasil tangkapan, atau sesekali mereka menarik pukat hingga ke tepian.
Kali lain, lelaki itu suka pula menebar jala, menangkap ikan sekitar muara, saat pasang laut belum tinggi. Menurutnya itu hal kecil yang membahagiakan setelah turun dari sekolah, atau sekadar kesenangan mengisi waktu saat liburan.
3//
Lelaki itu sangat hafal aroma laut, aroma lumpur dan pasirnya, ada pusaran air pasang, melintasi pintu tambak, ada rimbunan pohon bakau, beluntas dan pohon tepi laut lainnya.
Ia pernah memancing seharian, tanpa hasil tangkapan selain badan kulit yang menghitam oleh teriknya matahari siang lalu pulang dengan sekeranjang lelah. Tapi kenapa ia bisa bergembira?[]
*Penyuka prosa, menetap di Meulaboh, Aceh Barat



