Zikrulllah, ataupun mengingat Allah telah disepakati ulama sebagai makanan hati dan jiwa, bahkan bisa memengaruhi kerja fisik. Akibat melalaikan zikrullah ini bisa menghilangkan amal, merusak ibadah, bergelimang maksiat dan bisa berakibat kekufuran.

Dalam kasus menghilangkan amal, misalnya, amal akan tak tercatat bilamana amal itu tidak disandingkan dengan niat atas Nama Allah, ini berlaku untuk semua amal agar dicap sebagai amal hasanah.

Pentingnya zikrullah disebutkan dalam Sabda Nabi bahwa, perumpamaan orang yang mengingat Allah dan orang yang tidak mengingat Allah (dalam setiap aspek hidup) seumpama orang hidup dan mayat. 

Ini mengindikasikan betapa pentingnya mengingat Allah, sehingga kita bisa saja menyaksikan setiap orang tampak  hidup, bernafas, berkembang biak, beraktivitas, membangun gedung dst..tetapi di sisi Allah semuanya bagai “mayat-mayat”, karena tak ada substansi ruhiyahnya, tak ada komponen zikrullah dalam menjalankan aktivitas “kehidupan” tadi.

Secara praktis, level zukrullah yang paling lengkap ada dalam prilaku shalat, ada dalam sifat shalat. Sebab di dalamnya ada lafaz, zikir seperti Allahu Akbar, ada bacaaan Alquran dan ada pula lafaz zikir yang mengiringi pergerakan fisik. Shalat juga disebut dalam surat Thaha sebagai medium Mengingat Allah.

Pada level kedua adalah zikrullah dalam bentuk membaca Alquran. Sebab Alquran disebut juga sebagai Alzikru, ketika kita membaca Alquran semakna bahwa kita juga telah berzikir kepada Allah dengan melafazkan kalamNya. Apalagi bila kita dapat memahami makna ayat dan mengaplikasikannya dalam keseharian kita serta mengajarkannya.

Sedangkan level yang oaling umum adalah, mengingat Allah dalam setiap aktivitas keseharian kita ataupun dalam kondisi/peristiwa tertentu dengan lafaz tertentu pula. Seperti, Bismillah, Allah, Alhamdulillah, astaghfirullah dst, yang dilakukan saat berdiri (beraktivitas), duduk (sedang santai atau istirahat) dan bahkan berbaring (hendak tidur, sedang sakit atau hanya rebahan).

Dari ketiga level tadi kesemuanya mesti menjadi ” ruh” aktivitas kita, sebab ketiga level zikrullah tersebut mengandung makna dan kekuatan yang berbeda. Semoga Allah Selalu Membimbing kita untuk MenhingatNya dalam kondisi apapun.

Taufik Sentana
Ikatan Dai Indonesia. Cab. Aceh Barat