Sejarah membuatmu lapuk, itu kalimat mudah diucap bagi yang melihatmu kini.
Dan masa lalu hanyalah rasa bersalah
di sisa kebanggaan yang tampak.
Entah tangan siapa saja yang memetik benih manismu, sambil mengoyak semua keasrian dan keaslian.
Bagaimana menuang cawan cinta bagi generasi kini diantara puing dan rimah zaman? Mungkin membaca tradisi menjadi jamuan untuk menikmati anugerah yang tersisa.[]
Taufik Sentana
Peminat sastra sufistik


