Setiap hari ada 300 orang yang meninggal karena TBC, artinya setiap jam akan ada 12 orang yang meninggal karena penyakit menular ini. Penyakit TBC sangat sering mengintai orang miskin dan orang yang merokok kemanapun mereka pergi. Dua keadaan ini sangat rawan terinfeksi penyakit TBC.
Ironinya miskin dan kebiasaan merokok adalah dua hal yang melekat erat dan sering ditemukan pada masyarakat Aceh. Berdasarkan data yang disajikan dari website oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019 menyebutkan bahwa Aceh daerah nomor satu paling miskin di Sumatera dan keenam termiskin di Indonesia.
Di Aceh terdapat 819 ribu jiwa penduduk miskin dan Aceh peringkat 1 provinsi dengan prevalensi jumlah rata-rata batang rokok yang dihisap/hari (21-30 batang/hari) dengan jumlah perokok paling banyak adalah mereka para usia pekerja yaitu 35-44 tahun berdasarkan survei Nasional.
Aceh juga termasuk daerah penyumbang angka kejadian tuberkulosis paling banyak, menempati peringkat 12 dari 34 propinsi di Indonesia. Dinas Kesehatan Aceh tahun 2019 menyebutkan bahwa angka kejadian penyakit TBC lebih banyak ditemukan pada laki-laki usia pekerja dan lebih dari 50% ditemukan pada anggota keluarga yang merokok.
Fakta dan data ini membuat kita menarik benang merah bahwa miskin, merokok, laki-laki pekerja menjadi momok besar terhadap penanggulangan penyakit TBC di Aceh.
Tuberkulosis (TBC) memang tidak dapat dipisahkan dari masalah kemiskinan. Setidaknya sekitar 819 ribu jiwa penduduk aceh adalah orang miskin, yaitu mereka yang harus hidup dengan uang kurang dari 15 ribu rupiah per hari. Hubungan penyakit TBC dan kemiskinan bagaikan sebuah lingkaran setan.
Si miskin, akan menjadi orang yang kurang gizi, tinggal di tempat yang tidak sehat dan kumuh dengan ventilasi seadanya, dan tidak dapat melakukan pemeliharaan kesehatan dengan baik. Akibatnya, si miskin akan jatuh sakit. Karena sakit maka dia terpaksa berobat. Biaya pengobatan itu cukup mahal, akibatnya si miskin akan makin miskin lagi, sehingga berhenti berobat, sakitnya makin parah demikian berputar seterusnya.
Faktanya penyakit tuberkulosis (TBC) banyak ditemukan pada orang miskin dan penyakit menular ini membuat orang miskin menjadi lebih miskin, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Menderita penyakit ini membuat seseorang bisa dikeluarkan dari pekerjaannya, pengobatan TBC yang butuh waktu lama yaitu 6 bulan dengan harga obatnya yang mahal, padahal pengobatan tuberkulosis sudah digratiskan oleh pemerintah sejak puluhan tahun yang lalu dan tersedia di puskesmas.
Kemiskinan juga tak lepas dari pendidikan yang rendah, hal ini akan menggiring seseorang menjadi pribadi yang tidak peduli pada lingkungan dan tidak paham terhadap berbagai informasi kesehatan dan penyakit yang tersedia secara global, juga tidak peka terhadap kejadian di lingkungan sekitarnya, Padahal di era digital seperti zaman canggih saat ini, semua informasi dengan mudah dapat diakses terutama berbagai informasi tentang penyakit TBC sudah banyak digaungkan oleh pemerintah setempat.
Kemiskinan juga erat kaitannya dengan kebiasaan hidup yang tidak sehat seperti merokok di warung kopi yang membuat biaya hidup semakin berat dan menggali lubang kemiskinan semakin dalam. Ironinya masyarakat Aceh tidak dapat dipisahkan dari kopi.
Bisa dikatakan, kopi ibarat nafas bagi orang Aceh yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari mereka sejak zaman kesultanan Aceh. Sehingga akan banyak kita temui kedai kopi di berbagai pelosok negeri bertajuk Serambi Mekkah ini. Siang dan malam, tak kenal waktu, semua lapisan masyarakat di Aceh mengisi kedai-kedai kopi untuk bersantai minum kopi.
Tidak terbatas dari yang muda hingga yang tua, pria maupun wanita, miskin maupun kaya, semua berbaur tanpa sekat-sekat pembatas. Para penikmat rokok dan kopi ini meyakinkan konsep Yin dan Yang bahwa dalam kopi dan rokok terdapat suatu harmonisasi meskipun keduanya saling berseberangan.
Kopi yang memiliki unsur air dipadukan dengan rokok yang mengandung unsur api, menyatu menjadi satu dalam sebuah kenikmatan hakiki, mantul! Sulit dipisahkan karena memang menurut mereka perpaduan ini menghasilkan sebuah kombinasi yang sempurna. Sehingga akan banyak kita temukan perokok yang suka ngopi dan peminum kopi yang juga suka merokok.
Padahal Departemen kardiologi di Athens Medical School dan Perkumpulan Dokter jantung Amerika telah menegaskan bahwa merokok dan minum kopi (nikotin+kafein) dapat berinteraksi satu sama lain dan menghasilkan efek yang sangat berbahaya pada jantung dan paru.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Aceh disebutkan bahwa pada tahun 2017, ditemukan 7.342 kasus TBC di aceh dan kasus ini terus meningkat hingga tahun 2018 sebanyak 8.471 kasus. Jumlah kasus TBC paling banyak terdapat di Kabupaten Aceh Utara, di ikuti Bireuen, dan paling rendah di Kabupaten Bener Meriah.
Berdasarkan jenis kelamin, laki-laki 1,8 kali lebih banyak terkena penyakit TBC dibandingkan pada perempuan. Capaian angka keberhasilan pengobatan dan angka kesembuhan yang masih dibawah target Nasional menciptakan jurang pemisah antara jumlah pasien yang sembuh dari penyakit TBC dengan angka keberhasilan pengobatan yang semakin menurun dibandingkan tahun tahun sebelumnya.
Fakta dan data tentang peringkat kemiskinan, peringkat perilaku merokok dan angka kejadian TBC yang tinggi di Aceh mengusik nurani kita dan dengan semangat kita teriakkan untuk secepatnya dihentikan. Kemiskinan merupakan masalah dalam hal penanggulangan penyakit tuberkulosis di Indonesia terutama di Aceh, dan penyakit TBC merupakan masalah kesehatan yang utama pada masyarakat miskin di daerah ini.
Memang pemerintah kini telah membuat banyak kebijakan dan program untuk menanggulangi masalah kemiskinan dan juga masalah penyakit TBC ini, tetapi sepertinya belum menyentuh seluruh aspek masyarakat.
Perlu dilakukan upaya akselerasi lebih giat lagi agar dapat mencakup seluruh elemen masyarakat Aceh hingga yang tingkat paling rendah sekalipun. Satu hal yang perlu disadari juga bahwa penyakit TBC adalah mesin penghasil kemiskinan raksasa. Membiarkan TBC di satu daerah sama saja dengan tidak peduli terhadap kemiskinan yang merajalela di daerah itu, demikian sebaliknya.
Andai saja pemerintah mau bekerja keras mengentaskan secara sekaligus dua masalah besar ini yaitu miskin dan TBC sepertinya akan menjadikan Aceh yang sehat, bermartabat dan sejahtera. Dari sisi kemiskinan sebaiknya pemerintah membuka lapangan kerja sebanyak mungkin, memperbaiki tingkat pendidikan yang rendah melalui kemudahan mendapatkan beasiswa sehingga akan menghasilkan masyarakat dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul, makmur dan sejahtera.
Dari sisi penanggulangan penyakit TBC, bila pemerintah mau menyisakan dana yang cukup, meskipun saat ini kita mengeluarkan dana yang besar untuk menjalankan berbagai program pengendalian TBC yang berkomitmen kuat dengan pemerintah, nantinya di masa datang akan ada penghematan yang kita terima akibat TBC yang sudah terkendali.
Badan Kesehatan Dunia, WHO, menyatakan bahwa program pengobatan TBC di Indonesia punya perbandingan keuntungan yang besar senilai 55 : 1. Artinya, setiap 15 ribu rupiah yang dihabiskan oleh suatu daerah untuk program pengobatan TBC akan memberi manfaat 55×15.000 rupiah untuk daerah itu sendiri dalam 20 tahun mendatang.
Selain itu juga Perlunya ketegasan dari pemerintah terkait dengan peraturan merokok, karena rokok juga ikut bersinergi dalam lingkaran setan ini. Sungguh, semua kerja keras ini tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan, ini sebuah kerja berat yang kompleks, dinamis, dan perlu kedisiplinan tinggi yang mudah-mudahan dapat dijalankan oleh semua pihak, baik pemerintah, petugas kesehatan, dan semua elemen masyarakat, yang nantinya dapat mewujudkan impian kita semua yaitu Aceh sehat bebas TBC.[]
Penulis: Dr. dr. Budi Yanti, Sp.P
Dosen Bagian/SMF Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, FK Unsyiah/ Rumah Sakit Zainoel Abidin Banda Aceh, Anggota Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Aceh.







