Satu: Anggur ilahi
Segelas air putih
yang dibubuhi rindu
dan takjub.
Dalam gairah yang berlabuh
pada sunyi-senyap: ini engkau maksud dengan anggur ilahi?
Mabuk ini menggedor kesadaran
dan hanya terpesona dengan keindahan
yang disukai Kekasih.
Hingga dengannya thariqah dan suluk ditempuh agar dahaga bahagia terlunaskan pula.
Dua: Au !
Bukan ah, bukan pula kau,
tapi au!
Yang mencinta
telah terpukau,
luka dan suka
telah diaduk
di cawan bahagia
dengan seduhan rindu yang au!:
Apakah engkau
akan menjangkauNya?[]
Taufik Sentana
Peminat sastra sufistik


