Oleh: Syukri Isa Bluka Teubai
Setelah beberapa tahun di hadapan ini, setiap kampus menetapkan bahawa maksimal belajar hanya tujuh tahun sahaja. Walau ada beberapa kampus yang memang sudah menetapkan itu dari dulu. Namun, lebih dari itu. Setiap mahasiswa harus menyelesaikan akan kuliahnya dan akan diskor/dikeluarkan dari kampus tersebut.
Mahasiswa adalah maha daripada sekalian siswa, dimahakan oleh nama dan tempat mereka berada. Kampus adalah tempatnya/jenjang pendidikan para maha-maha itu. Dan mereka akan terlihat sibuk di semester-semester tujuh ke atas. Disibukkan oleh Skripsi.
Skripsi merupakan tugas dari segala yang akhir di perkuliahan/kampus. Skripsi akan skripsi tergantung jurusan masing-masingnya. Dalam pengajuan skripsi atau karya tulis itu, mahasiswa akan melewati tahapan-tahapan tertentu. Persiapan proposal, ialah rangkuman yang akan disidangkan di kala seminar proposal tersebut. Di waktu yang telah ditentukan, tergantung kampus masing-masing.
Sebelum semua itu bisa berlaku akan ada beberapa tahapan yang mesti dilalui, menjumpai PA (pengasuh akademik), adakala meminta persetujuan tentang judul yang akan diajukan untuk memenuhi syarat akhir tersebut. Meminta tanda tangan untuk pengesahan surat KKU akan proposal. Menjumpai ketua prodi, tergantung jurusan.
Setelah semua tahapan itu dilewati, pada tanggal yang telah ditentukan dibuatlah seminar tersebut. Di waktu inilah setiap mahasiswa-mahasiswa yang akan dites kelayakan proposal tersebut menyiapkan segenap tenaga pikiran untuk mudah akannya dalam menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanya oleh beberapa orang penguji atas sebuah tanggung jawab akan proposal itu.
Di sanalah awal mula masa depan dimulai bagi setiapnya. Bagi siapa yang lulus setelah perhelatan tersebut. Namun setiap penguji di sini, sungguh tidak memberatkan ataupun menekan sedemikiannya akan mahasiswa tersebut. Mereka sangat sadar bahawa yang sedang diuji itu calon-calon sarjana muda yang baru mahu menempuh kehidupan selayaknya kehidupan.
Mereka sangat paham akan ilmu si mahasiswa tersebut, sungguh mereka bertanya tentang hal-hal yang sangat wajar untuk ditanyainya. Mereka juga tidak pernah membandingkan dengan ilmu akademik (bukan agama) mereka yang sudah mendapat pengakuan adakalanya bergelar doktor dan semacamnya.
Dan pasti ada dari beberapa mereka (mahasiswa) itu yang ditolak akan judul proposal tersebut. Dan mereka yang ditolak akan proposalnya itu harus sering-sering ke jurusan, tergantung jurusan masing-masing. Adakalanya untuk berkonsultasi ulang.
Nah, dari semua tahapan-tahapan yang dilalui oleh mahasiswa ini pasti ada kejenuhan akan kejenuhan didapatnya, kembali kepada pribadi masing-masing. Tidak ada bedanya, walaupun yang sudah berumur (25 tahun ke atas) banyak juga yang dijenuhi oleh kejenuhan tersebut. Apalagi bagi mereka yang sudah berkeluarga.
Harus dipahami, seyogyanya. Datang dan datangi akan pengurus jurusan niscaya di sana ada jalan keluar, jangan baru sahaja sekali ke sana sudah berkoar-koar seakan dipersulitkan akannya, seakan banyak sekali kendala-kendala yang dibuat-buat oleh pihak pengurus jurusan tersebut.
Sekarang, mari dengan seksama kita menelaah akan mereka yang di sana, sungguh mereka adalah orang-orang yang begitu terpelajar. Bahkan beberapa negara mungkin telah dijelajahi. Mereka paham betul akan setiap kegundahan mahasiswa, dasarnya mereka dari situ juga, dari mahasiswa, menjadi sarjana. Mereka penyayang dan menyayangi, kan dosen.
Sekarang kembali lagi kepada mahasiswa itu sendiri, bagaimana dia membawa diri. Memantapkan niat di hati, sebelum itu terkabuli jangan pernah berhenti. Semangat yang seperti demikian inilah semestinya harus dimiliki oleh setiap mahasiswa masa akhir.
Para doktor atau apa namanya itu, mereka tidak akan membiarkan mahasiswa ini mati dalam karirnya sendiri. Mereka paham bahawa kehidupan mereka (mahasiswa) bukan di kampus, tapi di luar kampus hanya berproses sahaja mereka itu di kampus, kampus mana sahaja.
Apalagi mereka orang-orang yang berpikir profesional, sungguh tidak akan mengadukan, menyetarakan akan argumennya dengan calon sarjana ini.
Dan sekarang kembali lagi kepada pribadi kita masing-masing, mahu atau tidaknya, semangat atau tidaknya, atau segala dari padanya. Berpulang kepada pribadi sendiri. Alangkah bagusnya apabila sekalian kita tidak melalaikan diri dengan hal-hal yang tidak begitu penting dan pun tidak bermanfaat sama sekali.
Mari untuk para sekalian mahasiswa dan khususnya bagi para calon sarjana, mantapkan niat, dan kembali ke kampus selesaikan akan segala elegi yang belum terselesaikan yang terhalangi oleh hal-hal pribadi yang tidak begitu rumit, mungkin. Mulai sekarang, lawanlah itu dengan segenap kegigihan.
Niscaya mahasiswa akan berjaya dan skripsi itu tidak menjadi lagi bumerang berarti dalam diri mahasiswa. Mahasiswa adalah orang-orang hebat, tidak untuk semua bisa dengan mudahnya menjadi seorang mahasiswa, apalagi bagi yang tidak punya biaya. Jangan sia-siakan amanah ini.
Skripsi, sebenarnya tidak sesulit seperti terpikir. Mudah dan sangat sedap apabila itu dijalani, dilalui bukan untuk dikata-katai. Coba berbenah diri wahai sekalian mahasiswa, bahawasanya anda mampu, pasti bisa. Tidak harus menunggu waktu-waktu tertentu, apalagi sampai diskor.
Lawan akan kebiasaan yang sudah menjadi cerita lama itu. Berlama-lama dalam mengakhiri kuliah. Ingat, perjalanan masih sangat-sangat panjang dan jauh ke depan, duhai taulan. Orang tua mencari rezeki di kampung membiayai pendidikan kita. Bahawa bukan kita sahaja, adik-adik, biaya rumah tangga dan sangat banyak sekali keperluan lainnya harus dipenuhi.
Ingat akan itu wahai mahasiswa, jangan jadikan skripsi akan hujjah pamungkasmu seakan apalah skripsi itu. Sadarlah, bahawa kita punya tanggung jawab. Bukan cuma satu hal sahaja yang perlu kita lakukan.
Menikah dan berkeluarga siapa yang tidak mengharapkan itu. Sekarang skripsi sahaja belum selesai bagaimana untuk menempuh yang sedemikian rupa, berpikirlah sejauh mungkin. Benahi diri dari sekarang, dari sekarang jangan menunggu waktu.
Seyogyanya kita yang sudah menjadi mahasiswa, jangan sekali-kali menyia-nyiakan kesempatan emas ini walau hanya di kampus (walau tidak di dayah), tapi buktikan pada dunia bahawa kita bisa, mampu dan kita ini adalah mahasiswa, manusia dan juga seperti mereka. Nah. Wallahu alam.[]
*Syukri Isa Bluka Teubai, bernama lengkap M. Syukri. Lahir di gampong Bluka Teubai, Kec, Dewantara, Kab, Aceh Utara. Pada tanggal 24 April 1990, merupakan anak ke-tiga dari lima bersaudara. Setelah lulus dari Misbahul Ulum pada tahun 2009, melanjutkan studinya di kampus Al-Washliyah cabang Cunda, di tahun 2010 pindah ke kampus Stain Malikussaleh Lhokseumawe. Dan di tahun 2011 pindah lagi ke UIN Ar-Raniry, sampai sekarang masih tercatat sebagai Mahasiswa Bahasa Arab UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Alumnus Sekolah Hamzah Fansuri angkatan ke-dua 2015.







