LHOKSUKON – Novi Aditia tampak riang gembira ketika menerima hadiah uang Rp2,5 juta, piala dan sertifikat dari Museum Islam Samudra Pasai. Mahasiswi Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) itu juara I Lomba Storyline Koleksi Museum Islam Samudra Pasai. Dalam perlombaan penguatan karakter tersebut, mahasiswi dari Gampong Krueng Mate, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, itu mengangkat sosok Al-Malik Ash-Shalih, pendiri Kerajaan Islam Samudra Pasai.
Kebahagian Novi semakin lengkap lantaran ditemani ayahnya, Muzakir Z., saat menerima hadiah diserahkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara, Saifullah. Penyerahan hadiah untuk para pemenang lomba itu digelar di Aula Museum Islam Samudra Pasai, di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, Kamis, 26 November 2020.

[Kadis Dikbud Aceh Utara Saifullah menyerahkan hadiah kepada Novi Aditia. Foto: istimewa]
Selain perlombaan storyline bagi siswa SMA dan mahasiswa, Museum Islam Samudra Pasai juga menggelar lomba mewarnai koleksi museum diikuti anak-anak TK; lomba menggambar pesertanya murid SD; dan lomba presentasi koleksi museum untuk pelajar SMP-SMA pada pengujung Oktober hingga awal November 2020.
“Khusus storyline koleksi museum, baru kita yang buat lomba ini di Aceh,” kata Kepala Museum Islam Samudra Pasai, Nurliana NA.
Itulah sebabnya, kata Nurliana, dari 33 pendaftar lomba storyline koleksi museum itu, hanya 11 peserta mengirim narasi tabel kepada panitia. Sebelas peserta kemudian perform di museum itu pada 7 November 2020. Dewan juri memilih enam peserta terbaik, dan Novi Aditia sebagai juara pertama.
“Senang dan bersyukur, karena setelah berusaha hasilnya tidak mengkhianati usaha saya. Saya mempelajari tentang koleksi-koleksi yang ada di museum ini. (Saat mengikuti lomba storyline) saya mengungkapkan tentang kepribadian Malik Ash-Shalih. Menurut saya itu adalah sejarah utama dari Samudra Pasai,” ujar Novi usai menerima hadiah.
Mahasiswi berusia 19 tahun tersebut mempelajari sosok Al-Malik Ash-Shalih dari hasil penelitian tim Center for Information of Samudra Pasai Heritage (Cisah) terhadap tinggalan sejarah berupa batu nisan makam sultan ini.
Berikut bunyi inskripsi pada batu nisan sebelah kaki (selatan) makam Al-Malik Ash-Shalih, yang diterjemahkan peneliti Cisah, dan menjadi salah satu koleksi Museum Islam Samudra Pasai:
“Inilah kubur orang yang dirahmati lagi diampuni, orang yang bertakwa (takut kepada murka dan azab Allah) lagi pemberi nasihat, orang yang berasal dari keluarga terhormat dan dari silsilah keturunan terkenal lagi pemurah (penyantun), orang yang kuat beribadah (‘abid) lagi pembebas, orang yang digelar [dengan] Sultan [Al-]Malik Ash-Shalih, yang berpindah [ke rahmatullah] dari bulan Ramadhan tahun 696 dari hijrah Nabi [saw.]. Semoga Allah menyiramkan [rahmat-Nya] ke atas pusaranya serta menjadikan surga tempat kediamannya. Tiada tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah)”.
Al-Malik Ash-Shalih atau Al-Malikush-Shalih—sering diucapkan “Sultan Malikussaleh”—adalah sultan pertama sekaligus peletak fondasi Kerajaan Islam Samudra Pasai di pengujung abad ke-7 H/13 M. Sang pemanggul dakwah yang menyebarkan Islam di Asia Tenggara itu berpulang ke rahmatullah pada 696 H/1297 M. Kompleks makam Al-Malik Ash-Shalih berada di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera.
Menurut Novi, dengan mengikuti perlombaan storyline koleksi Museum Islam Samudra Pasai, ia telah memperoleh ilmu pengetahuan sejarah tentang Al-Malik Ash-Shalih dan dapat mengembangkan wawasannya terkait Samudra Pasai. “Saya juga bisa mengasah public speaking dan tingkat kepercayaan diri melalui lomba ini,” tutur mahasiswi semester tiga Program Studi Teknologi Rekayasa Komputer Jaringan Jurusan Teknologi Informasi Komputer PNL itu.
Novi mengajak semua generasi muda Aceh agar mempelajari sejarah. “Karena salah satu tokoh terkenal, Adolf Hitler mengatakan 'orang yang tidak tahu sejarah bagaikan orang yang tidak memiliki mata dan telinga',” ujarnya.
Dia menilai penting bagi generasi muda Aceh mempelajari sejarah Samudra Pasai dan Aceh Darussalam agar memperoleh pengetahuan tentang nilai-nilai keteladanan para pemimpin masa silam. Sehingga generasi muda dapat menjadi agen perubahan dalam membangun Aceh yang lebih baik di masa mendatang.
“Jadi, mari kita pelajari sejarah. Karena dengan mempelajari sejarah bukan berarti kita kembali ke masa lalu, tapi untuk memperbaiki masa depan dengan mengambil pelajaran pada sejarah,” ucap Novi Aditia.

[Kadis Dikbud Aceh Utara, perwakilan BPCB Banda Aceh dan Camat Samudera berfoto bersama para pemenang (juara I, II dan III) Lomba Storyline Koleksi Museum Islam Samudra Pasai. Foto: istimewa]
Ayah kandung Novi Aditia, Muzakir Z., sangat bangga dengan prestasi diraih putrinya itu. “Dia sering ke museum ini mempelajari sejarah Kerajaan Samudra Pasai,” kata pria yang bermata pencaharian sebagai penjual sandal dan sepatu di Keude Geudong, Kecamatan Samudera ini.
Menurut Muzakir, Novi merupakan anak ketiga dari enam bersaudara. “Saya berharap dia berprestasi di segala bidang. Saya akan terus mendukung dan mendoakannya,” ucap suami dari Marlina, penjahit pakaian perempuan di Keude Geudong itu.[](*)







