Maimunzir, penyair dan aktivis yang berdomisili di Aceh Timur memutuskan untuk merambah dunia politik dengan alasan sederhana namun esensial. Ia merasa prihatin terhadap pemahaman sebagian anggota DPRK Aceh Timur tentang tugas dan tanggung jawab mereka.

Baginya, sebagian anggota DPRK Aceh Timur saat ini terperangkap dalam urusan teknis seperti pembuatan jalan dan normalisasi sungai, sehingga melupakan tanggung jawab inti; legislasi, penganggaran, dan pemantauan.

“Awalnya saya mencalonkan diri hanya ingin menegaskan perihal unik dan lucu ini. Namun di tengah perjalanan banyak warga di Daerah Pemilihan (Dapil) yang mengundang saya untuk diskusi,” ujar caleg Dapil 5 DPRK Aceh Timur dari Partai Demokrat itu.

Seiring berjalannya waktu, Maimunzir semakin terlibat dalam diskusi dengan warga, memahami lebih banyak persoalan krusial di Aceh Timur. Ia lalu memantapkan diri terjun ke politik, membawa agenda perbaikan dan mengembalikan marwah fungsi Dewan.

Maimunzir bukan tokoh sembarangan yang ujub-ujub muncul, sebelum terjun ke dunia politik, ia aktif dalam berbagai organisasi kemanusiaan, seperti Yayasan Anak Bangsa, Yayasan Pulih, dan Friends International.

Siapa Maimunzir?

Pengalaman Maimunzir di berbagai organisasi membentuk perspektifnya tentang pentingnya keterlibatan dalam pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kesejahteraan sosial.

Caleg nomor urut empat Dapil 5 Aceh Timur ini memulai perjalanan pendidikannya di SDN Ulee Ateung, Nurussalam. Setelah itu, ia melanjutkan ke STN Banda Aceh dengan jurusan listrik, dan STM Banda Aceh dengan jurusan otomotif.

Tidak berhenti di situ, ia melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Untuk menambah pengalaman internasional, ia juga mengikuti program Social Welfare di Japan National Council Social Welfare (JNCSW) Tokyo, Jepang.[]Rilis