SEBAGIAN besar sejarah hidupnya masih tertutup debu waktu. Hari ini, ia terkadang tak lagi diingat sebagaimana orang-orang yang hidup di zaman lampau mengenalnya. Namun mereka yang tahu telah mengukir pada batu nisan makamnya untaian kata-kata untuk mengenangkan sosok yang mereka kagumi dan cintai. Mereka ingin generasi setelah mereka tidak melupakannya. Mereka berharap generasi setelah mereka mengikuti jejak langkahnya. 

Ia adalah seorang pemimpin yang bertaqwa (at-taqiy), takut murka Allah menimpa dirinya dan orang orang yang hidup pada waktunya dan karena itu ia menasihati (an-nashih). Ia berasal dari keturunan terkenal dan terhormat (al-hasib an-nasib) tapi semua itu justru mendorongnya untuk bersikap mulia dan murah hati (al-karim). Ia adalah orang yang gemar beribadah (al-'abid), dan itulah modal serta sumber kekuatan untuk berjuang menyiarkan dan menegakkan agama Allah (al-fatih). Itulah kata-kata yang terpahat untuk dirinya.

Dialah pendiri menara cahaya di belahan tenggara bumi Allah, mengikuti teladannya yang agung, Muhammad, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Dialah Al-Malik Ash-Shalih (Raja yang shalih), yang wafat pada Ramadhan 696 setelah hijrah Nabi s.a.w. (1297 M).[]Sumber:facebook.com/cisah.aceh