PARA pencinta budaya dari berbagai belahan dunia menjerit-jerit mengenai budaya mereka yang terikis karena kalah menarik dengan budaya baru yang ditawarkan dari pencipta (arah gaya) tren masa kini dari barat.
Melayu menjerit, Sunda menjerit, Aceh pun menjerit. Lalu, apakah ratapan itu ada gunanya?
Kalau kita ingin budaya bangsa kita digunakan lagi oleh generasi kita, maka kita sendirilah yang mesti menjadi pahlawan dalam hal tersebut itu. Kita harus menjalani hidup dengan seluruh kebudayaan, dari bangun tidur sampai tidur lagi setiap hari, yang artinya pakaian kita, makanan kita, cara kita berbahasa, adalah kebudayaan.
Sebagai contoh; Kita bilang diri anda pencinta budaya Aceh dan menyerukan akan orang lain juga, tetapi kita memakan burger, memakan KFC, memakan ayam penyet, meminum coca-cola, memakai jeans, dan sebagainya, maka itu kurang lengkap. Maka, kalau kita menyerukan kepada khalayak supaya mereka memakai lagi budaya Aceh, maka untuk lebih mengena, niscaya kita harus memakan gulee pliek, memakan sambai peugaga, memakan kuwah beulangong, memakan timpham, memakan apam, dan sebagainya.
Apakah kita berani menjadikan diri kita sendiri sebagai 'benteng' kebudayaan? Kalau kita berani, maka budaya bangsa kita akan menguat lagi. Apakah kita bersedia menjadikan budaya bangsa kita yang kita cintai sebagai budaya hidup kita sendiri…?
Lalu apa hubungannya budaya dengan Aceh Modern. Aceh modern, tergantung, tahun berapa kita anggap Aceh itu sudah menjadi sebuah bangsa yang modern.
Aku sendiri, sebagai seorang sukarelawan (aktivis) kebudayaan, berpendapat bahwa, Aceh pernah menjadi pelaku budaya modern di masa silam, yakni di zaman Kesultanan Sumatra (Samudra Pasai) dan Kesultanan Aceh Darussalam.
Namun kekalahan Aceh dalam perang menghadapi Belanda sejak 26 Maret 1873, telah membuat Aceh sebagai bangsa yang sekarat dengan sisa peradabannya yang besar.
Kesekaratan itu masih ada sampai sekarang karena di dalam NKRI Aceh tidak menjadi mayoritas dalam politik dan tidak punya hegemoni. Itu berbeda dengan dua kesultanan besar yang kita sebut di atas, yang Aceh adalah pemimpin dan pengendali politik selama ratusan tahun di Asia Tenggara ini.
Maka, apakah sekarang, Aceh itu bangsa yang modern atau primitif? Jawabannya tergantung sudut pandang.
Pertama, kalau kita membandingkan Aceh sekarang dengan zaman kesultanan dalam bidang levelnya di antara penduduk dunia, maka saat ini Aceh adalah primitif.
Kedua, kalau kita membandingkan Aceh hari ini dengan penduduk dunia saat ini, maka Aceh dapat disebut sebagai masyarakat konsumtif (pengguna, bukan produsen), berada satu tingkat di atas primitif dan satu tingkat di bawah standar modern.
Artinya, kita hidup di zaman modern tetapi tidak menjadi pelakunya. Kita masyarakat Aceh modern, tapi Aceh tidak modern.
Lalu, bagaimana supaya kita bisa menjadi masyarakat modern kembali dan memiliki level tinggi sebagaimana masyarakat Aceh di masa silam? Jawabannya, kita harus mundur untuk mengambil kembali hasil peradaban di masa jayanya orang Aceh yang menjadi pelaku modern, lalu menyiapkan mental peradaban tersebut dengan hasil teknologi saat ini, maju.
Kita harus mengambil cita rasa peradaban silam yang maju itu untuk zaman ini dan menyesuaikannya untuk kepentingan Aceh di zaman ini sampai ke zaman hadapan.
Kita harus makan gule pliek, kuwah beulangong, timphan, dan minum peundang, di atas meja yang di sana ada Presiden Erdogan, Trump, dan Putin, yang di meja itu ada kebab, burger, baklava, dan sebagainya. Level Aceh itu antarbangsa (internasional). Kita adalah masyarakat terhormat di atas muka bumi ini.[]
Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT).



