BANDA ACEH – Hiem untuk Masa Depan Aceh dilaksanakan di Kande Cafe, Batoh, Banda Aceh, Sabtu, 28 Juli 2018, malam.

Penulis hiem Apa Kaoy, Muhammad Yusuf, mengatakan, sekarang dirinya menggarap hiem menjadi seni pertunjukan teater yang dimainkan kalangan anak muda dan remaja, laki laki dan perempuan.

“Salah satu yang akan kita tampilkan malam ini dari Komunitas Hiem Keumala Intan, menyandingkannya dengan tokoh terkenal seperti Muhammad Nazar dan Fikar W. Eda untuk memberi motivasi (rasa kebanggaan) kepada kelompok remaja tersebut,” kata Yusuf.

Yusuf mengatakan, tujuan acara tersebut untuk mempertahankan keberadaan dan mengembangkan, menunjukkan kepada khalayak bahwa hiem bisa dikembangkan dan disandingkan dalam bentuk acara apapun. 

“Dan kita menunjukan kepada generasi muda bahwa hiem juga sebagai sebuah seni Aceh yang keren, bila mampu meramunya,” kata Yusuf.

Yusuf dengan lembaga pentasagoe yang dipimpinnya, ia akan terus berupaya mengangkat semua jenis kesenian-budaya Aceh yang dianggap masih termarginalkan oleh berbagai sebab dan faktor. 

“Semoga semua upaya ini selalu mendapat perhatian dan dukungan dari berbagai pihak, karena tanpa dukungan dari pihak lain saya tak mungkin dapat berbuat,” kata Yusuf.

Yusuf mengatakan, hiem sebenarnya tegolong jenis sastra tutur yang berkembang dalam kehidupan keseharian masyarakat di Aceh sejak zaman dahulu. Namun masyarakat seakan tidak menganggap bahwa hiem itu adalah sebuah jenis kesenian atau termasuk bagian dari kebudayaan. 

“Pada awalnya hiem hanya diselipkan dalam setiap obrolan dalam keseharian kehidupan masyarakat, tergantung topik obrolan, dan tergantung kalangan masyarakatnya,” kata Yusuf. 

Melihat potensi itu sejak awal tahun 1990-an ia terpikir untuk mengembangnya menjadi seni pertunjukan yang mudah diterima oleh berbagai kalangan. Sejak itu ia mulai mengumpulkan hiem dari masyarakat di hampir seluruh penjuru Aceh. 

“Sejak tahun 2001 saya menjadi hiem sebagai program acara radiio (secara interaktif dengan pendengar), menyelipkan hiem setiap penampilan saya di atas panggung, baik sebagai MC suatu acara atau saya tampil berhikayat, mengadakan lomba meuhiem secara bekelompok, menjadikan hiem sebagai selipan dalam tulisan saya (bentuk percakapan Hiem Apa Kaoy),” kata Yusuf.[]