“Kita tahu, bila Aceh ini merdeka lebih kaya dari Brunei Darussalam. Kita lebih kaya dari Emirat, negeri Arab itu. Mereka kaya hanya minyak dan gas, Aceh kaya dari apa saja. Minyak, gas, emas, dan hasil bumi bermacam-macam,” ujar Malik Mahmud.

Paduka Yang Mulia Wali Nanggroe Aceh Tgk. H. Malik Mahmud Al-Haytar mengatakan tarian Aceh seperti Saman dan Seudati membuktikan bahwa Aceh adalah bangsa perang. Bangsa gagah berani.

Hal itu disampaikan Malik Mahmud dalam sambutannya pada penutupan Musyawarah Besar (Mubes) III Partai Aceh, di Hermes Hotel, Banda Aceh, Minggu, 27 Februari 2023, malam.

Pada Mubes III itu, H. Muzakir Manaf atau Mualem terpilih kembali secara aklamasi untuk menahkodai Partai Aceh periode 2023-2028 mendatang.

Malik Mahmud mengatakan setelah kemerdekaan Indonesia, Aceh sudah bergejolak dari tahun 1953 sampai 1960 masa DI/TII, terjadi perdamaian yang disebut dengan Ikrar Lamteh. “Tapi tidak ada juga ditepati sesuai dengan perjanjian”.

Pada 1976, kata Malik Mahmud, hasil bumi Aceh terus diambil, sementara kondisi Aceh semakin kritis di sisi ekonomi, sosial, dan semangat orang Aceh. “Akhirnya pada 1976, Tgk. Muhammad Hasan Ditiro, mengajak kami semua untuk bergerak. Tak bisa dibiarkan, Aceh semakin diobok-obok,” kisahnya.

Malik Mahmud menyebutkan diproklamirkannya Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 1976 di Gunung Halimon, Pidie, untuk menuntut kemerdekaan dari Indonesia.

“Kita tahu, bila Aceh ini merdeka lebih kaya dari Brunei Darussalam. Kita lebih kaya dari Emirat, negeri Arab itu. Mereka kaya hanya minyak dan gas, Aceh kaya dari apa saja. Minyak, gas, emas, dan hasil bumi bermacam-macam,” ujar Malik Mahmud.

Aceh Kaya hasil Bumi

Malik Mahmud menuturkan Aceh sangat kaya akan hasil bumi, mulai dari laut, gunung atau daratan. Belum lagi hasil pangan seperti padi di mana selama ini diangkut ke Medan, Sumatera Utara.

“Hampir 60 ribu ton pertahun beras dari Aceh dibawa ke Medan. Dikonsumsi oleh puluhan juta jiwa. Itu yang harus kita ketahui bersama. Sementara rakyat Aceh lebih kurang hanya 5 juta jiwa,” jelasnya.

Selain itu, kata Malik Mahmud, banyak kapal dagang yang setiap hari melintasi laut Aceh.

Menurut Malik Mahmud, di Asia pendapatan perkapita Singapura sudah seperti Swiss. “Mereka paling kaya,” ucapnya.

“Aceh lebih luas dari Singapura. Luas Singapura hanya setengah dari luas pulau Simeulue, tetapi ekonominya meningkat. Cara mereka mengelola anggaran cukup baik dan profesional. Ada juga pelaku korupsi, tapi akan dihukum berat. Itu contoh teladan yang harus diambil oleh Aceh,” tutur Malik Mahmud.

Menjaga Kepentingan Aceh

Selain itu, Malik Mahmud mengingatkan semua pengurus dan kader Partai Aceh bahwa PA merupakan wadah yang diamanatkan untuk menuntaskan dan memperjuangkan butir-butir Memorandum Of Understanding (MoU) Helsinki, yang ditandatangani Pemerintah RI dan GAM tahun 2005 silam.

Malik Mahmud juga meminta supaya semua orang Aceh untuk setia. “Bila kita setia, artinya kita sudah setia kepada bangsa Aceh. Setia kepada perjuangan bangsa Aceh dan setia kepada kepentingan bangsa Aceh,” katanya.

Kepentingan setia itu, kata Malik Mahmud, meliputi kepentingan ekonomi Aceh, politik Aceh, sosial dan budaya Aceh, hingga dengan kepentingan agama, adat istiadat, dan tanah air Aceh.

“Itu adalah kepentingan bangsa Aceh yang harus dijaga dengan baik,” tuturnya.

Malik Mahmud juga meminta supaya terus menerus memperjuangkan Qanun Aceh tentang Bendera Aceh dan Lambang Aceh. Juga mengupayakan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Aceh.

“Berikutnya, jangan lupa mengupayakan kemakmuran dan kesejahteraan bagi mantan kombatan GAM dan korban konflik,” ucapnya.

Selaku Tuha Peut Partai Aceh, Malik Mahmud menyampaikan semua legislator (anggota dewan) dari Partai Aceh wajib berupaya dan peduli kepada partai dan para kader. “Semoga bendera Partai Aceh terus berkibar ban sigom Aceh, dan memenangkan Pemilu pada 2024 mendatang,” ujarnya.

Kewajiban Partai Aceh, kata Malik Mahmud, untuk memperjuangkan nasib bangsa Aceh, melalui sektor ekonomi, kekuasaan dan kemuliaan, juga masa depan Aceh.

“Perjuangan ini bukan untuk pribadi. Saya bukan untuk pribadi, almarhum Tgk. Hasan Ditiro juga berjuang bukan untuk pribadi. Semua kita berjuang untuk bangsa Aceh. Tak terkecuali,” tegasnya.

Malik Mahmud berharap kepada generasi muda Aceh, untuk belajar sejarah tentang Aceh. “Kita Aceh bangsa besar, maka ajarkan anak-anak kita supaya tahu sejarah perjuangan Aceh,” ucapnya.[]

Penulis: Adam Zainal
Editor: Thayeb Loh Angen