__”Apalagi durasi belajar, dan lainnya sangat disesuaikan dengan keadaan sekarang, maka prioritas dalam menentukan penguatan pembelajaran menjadi penting”___
Musim pandemi cobid 19 sepertinya akan masih panjang, bila kita melihat realitas kurva nasional yang terus naik, bahkan hampir menembus rekor Tiongkok, 85.000 korban.
Lembaga pendidikan formal terdampak yang paling ironis. Sebab, banyak batasan protokolnya, bahkan sampai mengecilkan kapasitas siswa dan menambah ruang dan waktu belajar. Utama di fase normal baru ini, namun keadaan lingkungan masyarakat secara umum tampak cuek dan kehabisan “rasa takut”. Lihatlah pasar pasar, tempat hiburan, jalanan raya dan keramaian lainnya. Negara dan pemerintah juga dianggap tanpa rerobosan yang berarti (istilah Dahlan Iskan dalam catatannya disway.id).
Sementara sekolah penuh batasan, konon siswa yang ke sekolah mesti berjemur dulu beberapa menit sebelum melakukan aktivitas belajar di kelas. Itulah yang saya sebut ironi!.
Strategi yang diambil oleh sekolah adalah menjalankan dua opsi, ofline dan online serta keterangan surat pernyataan, baik ortu ataupun guru.
Bagaimanapun ortu tetap ingin anaknya belajar, walau diakui belajar tatap muka lebih baik daripada daring. Satu sisi, ada kekhawatiran juga saat berbaur di sekolah.
Disinlah perlunya manajemen belajar. Baik oleh guru, ortu dan sekolah. Umumnya sekolah merujuk pada ketentuan mendiknas dan beberapa kompotensi yang relevan untuk dikuasai segera. Apalagi durasi belajar, dan lainnya sangat disesuaikan dengan keadaan sekarang, maka prioritas dalam menentukan penguatan pembelajaran menjadi penting.
Untuk itu perlu pola manajemen khusus dalam merealisasikan belajar siswa seoptimal mungkin. Selain menciutkan materi dan kompetensi, pendekatan belajar mandiri dan reflektif juga bisa diterapkan. Selanjutnya meramu materi aplikatif dan kontekstual sesimpel mungkin agar cepat dicerna dan autentik (riil, berjangka lama atau melekat).
Hal pokok lainnya, dalam manajemen belajar saat pandemi ini, adalah memastikan kompetensi siswa yang akan dibangun sejalan dengan yang dia butuhkan (mungkin secara minimal) saat berada di jenjang belajar selanjutnya, atau sejalan dengan nilai lokal dan prinsip utama keyakinan agamanya.[]
*Praktisi Pendidikan Islam. Bergiat sejak 1996. Sedang merampungkan Buku Hijrah Pendidikan.




