BANDA ACEH – Kurangnya penelitian dan ekskavasi untuk sumber primer dalam penulisan sejarah Aceh telah membuat para penulisnya berputar-putar pada tema yang sama dengan sumber yang sama selama bertahun-tahun.
Keadaan tersebut merupakan hal ironis dan menyedihkan karena banyak benda bersejarah tidak diteliti dan banyak tempat yang diyakini menyimpan benda arkeologi tidak diekskavasi (penggalian arkeologis).
Peneliti Sejarah dan Kebudayaan Islam, yang merupakan pembina Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh), Taqiyuddin Muhammad, mengatakan, akibat dari tidak digalinya sumber sejarah, Aceh menjadi masyarakat yang hilang ingatan tentang masa silam, dan tidak ada harapan untuk masa depan.
“Penelitian dan ekskavasi akan memperbarui perbendaharaan ingatan dan ilmu pengetahuan orang Aceh. Ini mendesak, ekskavasi sejarah Islam di Aceh adalah hal yang paling utama dan mendesak dilakukan,” kata Taqiyuddin Muhammad, di Banda Aceh, Selasa 11 April 2017.
Taqiyuddin mengatakan, instansi terkait di pemerintahan belum melakukan hal penting tersebut sehingga masyarakat harus melakukannya sendiri.
“Kalau instansi pemerintah yang bertanggung jawab untuk itu tidak segera melakukannya, maka kita harus lakukan sendiri, walaupun tanpa izin pemerintah, tetapi dengan tetap mengikuti prinsip dan standar yang telah dibuat oleh UNESCO yang disebut International Principles Governing Archaeological Excavation,” kata Taqiyuddin.
Taqiyuddin mengatakan, pada Oktober 2008, masyarakat pernah melakukan ekskavasi di Kota Sumatra, ibukota Kesultanan Samudera Pasai, di Kuta Krueng, Kecamatan Samudra, Aceh Utara.[]



