BANDA ACEH – Dalam peradaban Islam, bangunan paling utama adalah masjid, bukan istana sultan. Aceh, dijuluki dengan negeri seribu masjid, seperti Turki yang dijuluki negeri sejuta menara. Namun ini bukan tentang hubungan Aceh dengan Turki karena hal itu masalah lain.
Masalah kita sekarang adalah tentang masjid-masjid bersejarah temuan seorang peneliti muda, Masykur Syafruddin, dari Pedir Museum, yang juga anggota Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh).
Dalam penelitianya baru-baru ini, Masykur menemukan, di wilayah Pidie, ada puluhan masjid yang berusia ratusan tahun, sebagian besar terbengkalai. Kekayaan warisan sejarah tersebut, menurutnya, belum mampu dihargai oleh generasi sekarang.
“Masjid-masjid itu terancam. Ada yang telah dibangun mesjid lain dengan masjid itu di tengahnya, ada yang dihancurkan karena dibangun masjid baru, dan ada yang dijadikan gudang barang bangunan masjid baru. Ini masalah besar, karena masjid-masjid itu, selain rumah ibadah, merupakan benda bersejarah yang padanya ada seni ukir bernilai tinggi khas Aceh,” kata Masykur, di Banda Aceh, Sabtu 29 April 2017.
Masykur mengatakan, ketika ia mengunjungi sebuah masjid yang dibangun oleh Teungku (Tgk) Chik Di Tiro, di Tiro, Pidie (lihat foto-foto di atas), ia melihat rumah ibadat yang sekarang menjadi benda bersejarah tersebut terbengkalai, tidak terawat, dan mulai melapuk.
“Di setiap masjid, hampir selalu ada balai-balai dayah. Seperti di masjid Tgk Chik Di Tiro, di dekatnya ada balai yang merupakan tempat belajar mengajar dayahnya. Saya berharap, semua pihak, baik masyarakat maupun pemerintah, merawat dan menjaga masjid-masjid tua ini. Ini barang berharga dalam pandangan peradaban. Harus ada usaha-usaha yang terstruktur untuk melestarikan warisan peradaban Islam ini,” kata Masykur.[]



