BANDA ACEH — Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan, suhu di wilayah Aceh belakang ini meningkat dari biasanya. Hal ini menyebabkan beberapa daerah kini mulai mengalami kekeringan.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Blangbintang Aceh, Zakaria, mengatakan, penyebab meningkatnya suhu yang terjadi saat ini dikarenakan adanya perubahan cuaca atau peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.

“Untuk sekarang secara umum, Aceh telah memasuki musim pancaroba. Sehingga cuaca akan terjadi sedikit peningkatan suhu karena berkurangnya curah hujan terutama untuk daerah-daerah musim tadi,” ujarnya kepada portalsatu.com/, Kamis, 15 Februari 2018.

Dia menyampaikan, akibat fenomena itu, suhu maksimum di Aceh selama beberapa hari ini mencapai 33 derajat celcius.

“Suhu yang tinggi atau maksimum mulai dari 30-33 derajat celcius, untuk daerah dataran rendah. Sedangkan untuk daerah pegunungan, itu suhu maksimumnya antara 27-29 derejat celcius,” ujarnya.

Zakaria menjelaskan, memang beberapa hari ini, Aceh dilanda musim kemarau atau panas. Bahkan sebagian daerah seperti Pidie, Sabang, Aceh Besar, dan Lhokseumawe, tidak turun hujan.

“Khususnya untuk daerah Aceh dan beberapa wilayah yang sangat terasa karena sudah lama tidak turun hujan,” jelasnya.

“Sedangkan beberapa daerah yang tidak mengalami hujan sejak dari Februari, itu merupakan daerah musim. Kalau musim kemarau dia akan kering dan kalau di musim penghujan dia akan terjadi penambahan curah hujan.”

Meskipun demikian, BMKG menyampaikan ada beberapa wilayah yang tidak terpengaruh terhadap perubahan musim atau masa pancaroba tersebut. Dalam arti kata, di musim kemarau seperti saat ini, daerah Subulussalam, Tapak Tuan, dan Simeulue, tidak begitu berpengaruh, karena masih adanya curah hujan yang turun.

“Daerah ini daerah pengecualian karena itu daerah Non Zone atau daerah yang tanpa mengenal musim. Walaupun musim kemaru, dia tetap ada hujan sedikit. Itu untuk daerah-daerah yang saya sebutkan tadi,” ujarnya.[]