SUBULUSSALAM – Penderita human immunodeficiency virus (HIV) dan acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) di Kota Subulussalam merupakan galongan produktif berusia 20-40 tahun. Dari sebanyak 24 kasus, lima di antaranya meninggal dunia.
“Umumnya penderita HIV/AIDS di bawah umur 40 banyak sekali, ada yang umur, 20, 30-an, ngeri kita lihatnya,” kata Direktur RSUD Subulussalam, dr. Sarifin Usman Kombih, kepada portalsatu.com/, Senin, 12 November 2018.
Ia mengungkapkan para penderita HIV/AIDS terindentifikasi saat mereka berobat di RSUD Subulussalam. Pihak RSUD, kata Sarifin Usman Kombih selanjutnya memberitahu kepada yang bersangkutan apakah bersedia ditangani atau tidak.
“Kita kasih tahu, anda kena HIV/AIDS bersedia atau tidak kami tangani. Karena kalau dia tidak mau, nggak mungkin kita paksa,” kata Sarifin Usman Kombih sambil mengatakan saat sebanyak 19 penderita HIV/AISD mereka tangani.
Ia menjelaskan, dari 24 kasus HIV/AIDS di wilayah Kota Subulussalam 13 laki-laki dan 11 perempuan, empat di antaranya dari luar daerah yakni Aceh Singkil dan Pak-pak Bharat, Sumatera Utara. Dari jumlah itu lima meninggal, dua laki-laki dan tiga perempuan.
Mantan Kepala Puskesmas Penanggalan ini menjelaskan proses penularan HIV/AIDS terjadi saat proses pergantian cairan seperti melalui jarum suntik, suka berganti-ganti pasangan atau berhubungan badan dengan penderita HIV/AIDS.
“Kemudian bisa saja seorang ibu penderita HIV/AIDS akan menular kepada anak yang ia lahirkan. Atau menular saat cukur rambut, pisau silet yang pernah digunakan kepada orang penderita HIV/AIDS. Kan sering tergores luka saat cukur rambut, bisa melalui itu, ” ungkap Sarifin Usman Kombih.[]



