Selasa, 20 Februari, rombongan tiba di Menara Dewan Bahasa dan Perpustakaan (DBP) di Kuala Lumpur. Gedungnya menjulang tinggi. Lebih dari 30 lantai.
Tiba di lobi, kami disambut oleh para staf, dan diajak naik ke lantai 3, tempat koleksi Dokumentasi Melayu, dari jaman lampau sampai modern.
Awalnya, oleh salah seorang pengurus teras DBP, kami disambut dan diberi pengenalan awal mengenai Pusat Dokumentasi Melayu.
Tidak lama, Puan Kamariah binti Abu Samah, Ketua Pusat Dokumentasi Melayu, tiba. Dia tidak hanya memberi penjelasan tentang koleksi apa saja yang DBP punyai, seperti karya Tun Sri Lanang mengenai Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu), namun juga mengajak rombongan berkeliling Pusat Dokumentasi Melayu tersebut.
Diperlihatkanlah koleksi kitab klasik dan juga satu ruangan dari sastrawan besar Malaysia, yang diisi oleh koleksi piringan hitamnya. Salah satu koleksi yang menarik adalah kumpulan lagu keroncong pilihan Sukarno.
Di sampul piringan hitam itu, tertulis kalimatnya, “Saya restui pengedaran piringan hitam daripada lagu-lagu “galian” saya ini” 7 September 1966
Setelah berkeliling ruang Pusat Dokumentasi Melayu, acara seminar pun dimulai.
Ada dua pembicara, Prof. Siti Zainon Ismail, budayawan dan seniman Malaysia dan Dr. Wildan, Kepala Dinas Kepustakaan dan Kearsipan Aceh. Kedua pembicara ini adalah “orang dekat” Ali Hasjmy dalam pengertian pada ide, gagasan dan gerakannya.
Wildan, sejak strata magister, sudah memberi perhatian kepada kajian pemikiran Ali Hasjmy.
Dia mengingat perjumpaan awalnya dengan Hasjmy, yang saat itu sebagai Ketua MUI dan LAKA. “Prof. Ali Hasjmy orangnya disiplin terhadap waktu dan sangat menghargai pengetahuan,” kenangnya.
Wildan memiliki memori kuat awal mula perjumpaan itu, ketika dia hendak mewawancarai Hasjmy dalam penyelesaian tesis masternya. Tokoh besar itu menyambutnya dengan setelan rapi dan gagah lengkap dengan memakai jas dan dasi. Karena bagi Hasjmy, dia akan berhadapan dengan proses pengetahuan.
Wildan juga menulis untuk disertasinya mengenai aspek nasionalisme dalam karya Ali Hasjmy.
Wildan tampil sebagai pembicara pertama. Dalam pemaparannya, Wildan menjelaskan posisi intelektual Ali Hasjmy. Mulai dari karya-karyanya sampai proses kreatifnya.
Wildan mencatat, bahwa Hasjmy telah menulis banyak karya di berbagai bidang. Dalam aspek sastra, Hasjmy menulis 11 novel, 10 buku puisi, 32 cerpen dan 2 karya imajinatif. Wildan juga memberi apresiasi kepada Kepustakaan dan Museum Ali Hasjmy yang memiliki beragam koleksi, dari naskah kuno, buku-buku klasik, barang-barang pribadi, sampai alat teknologi tradisional Aceh.[]
Penulis: Muhammad Alkaf





