LHOKSEUMAWE- Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) IAIN Lhokseumawe, Muhammad Saleh, menjalani ujian promosi doktor, di Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Medan, Rabu, 20 Februari 2019.
Rektor UINSU, Prof. Dr. Saidurrahman, M.Ag., kemudian menyerahkan penghargaan kepada Dr. Muhammad Saleh, M.A., yang menyelesaikan program pendidikan Doktor Komunikasi dan Penyiaran Islam dengan judul penelitian disertasi “Komunikasi Antar-Budaya Etnik Cina Dalam Mempertahankan Eksistensi dan Identitas Diri pada Masyarakat Aceh”, dengan hasil sangat memuaskan.
Adapun Ketua Sidang Promosi Doktor tersebut, Prof. Dr. Saidurrahman, M.Ag., Sekretaris Sidang Dr. Achyar Zein, M.Ag., promotor Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam yakni, Prof. Dr. Syukur Kholil, M.A., Dr. Ahmad Tamrin Sikumbang, M.A. Sedangkan tim penguji terdiri dari Dr. Iskandar Zulkarnain, M.Si., Prof. Dr. Lahmuddin Lubis, M.Ed., dan Prof. Dr. Mohd Hatta.
Sidang terbuka itu juga dihadiri Wakil Rektor II IAIN Lhokseumawe, Dr. Darmadi, M.Si., ketua jurusan, wakil dekan, dan dosen FUAD kampus tersebut.
“Saya berterima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dan membantu perjuangan ini hingga berhasil meraih program doktoral,” kata Muhammad Saleh, dalam keterangannya diterima portalsatu.com, Rabu, malam.
Muhammad Saleh menjelaskan, dalam penelitiannya tersebut mengungkapkan, pertama, bagaimana pola komunikasi etnik Cina dalam lingkungan masyarakat pribumi di Kota Lhokseumawe. Selain itu, bagaimana interaksi antara etnik Cina dengan masyarakat Aceh di Lhokseumawe, serta bagaimana proses komunikasi antarbudaya etnik Cina dalam mempertahankan eksistensi dan identitas dari pada masyarakat Aceh di Kota Lhokseumawe.
“Interaksi yang terjadi antara etnik Cina di Lhokseumawe dengan masyarakat Aceh (Lhokseumawe) itu melalui kerja sama, kompetisi dan konflik. Interaksi melalui kerja sama ini dilakukan dalam bentuk komunikasi interpersonal, sementara persaingan dan konflik terjadi dalam persaingan bisnis. Masyarakat etnik Cina berusaha mencari simpati masyarakat pribumi dengan mengedepankan interaksi simbolik dan manipulasi data,” ujar Saleh.
Di samping itu, kata Saleh, masyarakat etnik Cina itu tertutup dengan masyarakat pribumi, dan mereka memiliki komunitas sendiri. Bahkan mereka lebih eklusif, maka untuk mempertahankan eksistensi dan identitas, masyarakat etnik Cina di Lhokseumawe menyenangi makanan khas Aceh, menggunakan nama Aceh dan lebih mempopulerkan dirinya dengan nama Aceh, meskipun memiliki nama asli Cina.[]



