Bertemu dengan kata melihat, terbayang oleh kita kerja mata mencerap suatu obyek konkret–entah mug berisi kopi tinggal separuh, barisan motor bersesakan berebut mengembat bagian jalan milik pelenggang kangkung di sepetak bagian ibu kota yang kian kisruh, cicak merayap menghampiri laron dekat lampu neon, atau titik-titik air hujan yang merambati kaca jendela kamar.
Melihat, yang bersaudara dengan memandang, menampak, menjelang, menonton, menyaksikan, juga punya pertalian makna dengan melongok, meninjau (dua kata ini, melongok dan meninjau, merujuk pada perbuatan melihat obyek dari jarak cukup jauh, terkadang dibarengi dengan sedikit mendongakkan kepala), dan menoleh (melihat ke samping sembari memalingkan muka).
Demikianlah. Cara melihat yang berbeda, kita lihat, telah mendorong lahirnya kata-kata baru. Melihat dengan sudut atau ekor mata, misalnya, punya bentuk sendiri, yaitu melirik, mencerling, mengambal, mengerling, menjeling, menjuling. Lalu, melihat dengan teliti kita katakan melihati, memindai, memperhatikan, mengamati.
Melihat dengan cara lain lagi, yakni dengan sembunyi-sembunyi, juga punya bentuk berbeda dari melihat, yaitu meluluk, memata-matai, mencalang, menelik, mengaram, mengawasi, mengintai, mengintip, menjingu, menyibuk, menyilik. Sementara itu, membidikdan mengincar adalah melihat dengan maksud tidak baik, misalnya hendak mencuri. Lain halnya dengan melotot, yaitu melihat dengan kelopak mata terbuka lebar.
Dalam memandang, aktivitas melihat relatif tetap dan berlangsung cukup lama. Ini bermiripan dengan menatap, yang punya satu tambahan komponen makna berbeda, yaitu disertai hasrat mengetahui yang lebih besar.
Ada nuansa makna yang kita tangkap pada (1) “Lewat jendela kereta yang membawanya dari Jakarta ke Surabaya, ia memandang hamparan sawah seluas samudra” dan (2) “Aragorn, sang raja yang baru kembali menduduki takhtanya (dalam lakon dongeng The Lord of the Rings), menatap mata Arwen dalam-dalam.”
Mudah-mudahan contoh-contoh itu menambah sekaligus mempertajam pengertian bahwa bidang obyek yang dipandang biasanya lebih lapang. “Memandang (bukan menatap) muka sang kekasih”.
Sebaliknya, “Menatap (bukan memandang) mata sang kekasih”. Lain dari itu, sesekali mengerjap, lazimnya lebih bisa terjadi dalam memandang daripada menatap, yang biasanya berlangsung tanpa mengedip.
Patut juga kita catat, memandang punya pengertian-pengertian memperlakukan, menganggap (“Keadilan tidak memandang pangkat dan kelas”) serta menghargai, menghormati (“Generasi sekarang cenderung tidak lagi memandang kaum tua-tua”).
Di situlah memandang beririsan makna dengan melihat. Yaitu mencerap obyek abstrak bukan dengan (bola) mata melainkan dengan nalar.
Sumber: beritagar.id




