Oleh: Thayeb Loh Angen
Budayawan, Pengusaha.
————————————
Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Begitulah terjemahan dari ayat ke 2 dari surat alfatihah surat pertama dari kitab suci Alquran. Ayatnya berbunyi, اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn.
Disebabkan ada tanda lam alif larangan waqaf setelah ayat tersebut, maka kali ini kita bicarakan satu ayat lagi setelahnya, yaitu ayat ke 3 dari surat alfatihah surat pertama dari kitab suci Alquran, yang berbunyi:
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ ar-raḥmānir-raḥīm. Terjemahannya, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita memuji sesuatu yang menurut indra kita atau pikiran kita bagus, menyenangkan, dan mendukung keinginan kita.
Misalkan, ketika melihat pemandangan yang indah menakjubkan, kita terkagum-kagum, tatkala mendengar suara kicau burung ataupun nyanyian atau bacaan Alquran yang mendu, maka kita pun tebuai, ketika merasakan sesuatu yang menyenangkan kita merasa terberkati. Kita memuji semua itu karena sesuai kinginnan kita.
Segala puji-pujian yang itu dan yang lainnya kembali kepada Allah Ta’ala karena Allahlah yang menciptakan semuanya. Oleh karena itulah kita diperintahkan untuk menjauhi sifat angkuh, sombong atau takabur, karena semua kehebatan dan kelebihan itu pemberian Allah dan semua kepujian itu kembali kepada Allah Ta’ala.
Membersihkan hati dari hal yang dilarang tersebut bukanlah hal mudah. Akan tetapi, hal tersebut dapat dilakukan dengan kegigihan, melatih hati kita setiap hati. Begitu ada rasa angkuh, kita memohon ampun kepada Allah dan mengatur ulang cara berpikir kita. Sifat tersebut pertama sekali terbersit dari dalam hati, sebelum keluar melalui perkataan dan tindakan. Untuk menghinhdarinya, kita perlu mengaturnya sejak terbersit di dalam hati.
Segala puji bagi Allah. Sekiranya kita tersilap, maka memohonkan ampunan segera kepada-Nya. (Allah) Maha pemurah lagi Maha Penyayang.
Allah menyayangi semua makhluk. Kasih sayang Allah itu dapat dinilai secara langsung oleh mata dan indra kita. Sekiranya hal itu sesuai keinginan kita, maka kita sukai. Sekiranya ada hal yang tidak sesuai keinginan kita, maka tidak kita sukai.
Namun, apabila tingkatan pengetahuan dan iman kita semakin tinggi, maka apapun yang terjadi pada kita, baik hal itu menyenangkan atau tidak, maka kita tetap dapat mensyukurinya dan sentiasa memuji Allah Ta’ala. Sesakit apapun itu, kita tetap menilai itu sebagai rahmat dan karunia Allah dan memuji-Nya.
Hal tersebut terjadi karena kita tidak lagi meniai sesuatu dengan mengandalkan indra tubuh, tetapi menilainya dengan hati, dengan makrifat. Hati yang sudah mencapai tingkat cinta yang tertinggi.
Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. (Dialah) Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Wallahu alam.[]
Baca juga:
Memahami Alquran Surat 1 Alfatihah Ayat 1
wikipedia.org/wiki/Al-Qur’an
litequran.net/al-fatihah




