==========
Aku adalah suara dari gemuruh yang tersembunyi jauh.
Menghimpun kisah para petarung, penjelajah dan pencari kedalaman.
Engkau telah meredam amukku dan menerima kisah baru tentang sketsa hujan yang akan turun kemudian.
Aku tetap akan kembali sunyi seperti semula dengan jejak angin dan bulan langit.
Dan engkau adalah isyarat pertemuan dengan semua hempasan.
Puisi: Taufik Sentana yang berjudul "Yang Diucapkan Ombak Kepada Pantai" (portalsatu.com/, 18 September 2019)
========
Itulah puisi Taufik Sentana yang bejudul “Yang Diucapkan Ombak Kepada Pantai”.
Kita dapat membaca sendiri bait-baitnya dan memaknainya sendiri. Sementara bagiku, puisi tersebut sepertinya ditulis dalam waktu singkat. Taufik mengambil metafora laut dan pantai untuk puisinya, atau, itu bukan sebuah metafora, akan tetapi memang realitanya adalah tentang laut dan pantai yang sebenarnya.
Baik kita menganggapnya sebagai sebuah metafora ataupun kita menganggap itu adalah cerita tentang laut dan pantai, tetap saja di dalamnya kita temukan sebuah peristiwa sebab akibat, awal dan akhir, dari ada menjadi tiada dan begitulah seterusnya.
Ombak muncul dengan segala ceritanya sepanjang zaman, lalu hilang di pantai dan tersapu kisahnya karena hujan, begitu seterusnya. Sekiranya tidak muncul hujan pun, bekas ombak tetap akan hilang dan muncul ombak lain. Maka, terpikirlah aku, puisi ombak dan pantai ini juga tentang hidup dan matinya manusia, dari tiada menjadi ada dan seterusnya.
Dan terpikir olehku pula, apabila pusisi karya Taufik itu metafora ombak dan pantai, tentang hidup dan mati, apakah ombak dan pantai itu benda mati atau benda hidup? Walaupun kadang penyair saat menulisnya tidak memikirkan maknanya, tetapi puisi ini memang membuat orang mengkayal atau merenungkan maknanya, terutama bagi orang yang sering ke pantai sepertiku.
Selain itu, di bait terakhirnya, (kata ombak kepada pantai), “Dan engkau adalah isyarat pertemuan dengan semua hempasan”. Di sini menjelaskan bahwasanya pantai adalah metafora akan segala sesuatu penerima derita. Ya, pantai selalu menjadi sasaran hempasan, tetapi orang-orang selalu mengunjungi pantai dan menghindari ombak, kecuali peselancar.
Niscaya, apabila hati orang kadang seperti pantai yang selalu dikunjungi dan disukai, maka orang itu harus siap juga menjadi penerima hempasan. Itulah penerimaan menjadi pantai, disukai, dikunjungi, juga dihempas. Kalau tidak bersedia, apakah harus menjadi ombak yang kemudian hilang di pantai? Atau, dapatkah menjadi keduanya sekaligus? Atau, jangan menjadi keduanya, tetapi jadilah “…para petarung, penjelajah dan pencari kedalaman” sebagai mana di bait kedua puisi itu.[]
Thayeb Loh Angen




