Rabu, Juli 24, 2024

Tinjau Venue PON XII,...

SIGLI - Pemerintah Kabupaten Pidie meminta rekanan terus memacu pekerjaan tiga venue yang...

Wali Nanggroe dan Mualem...

JAKARTA – Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haythar...

Balai Syura: Perempuan Aceh...

BANDA ACEH - Balai Syura Ureung Inong Aceh dan seluruh elemen gerakan perempuan...

Pemko Subulussalam dan Pemkab...

SUBULUSSALAM - Pemerintah Kota (Pemko) Subulussalam menjalin kerja sama atau MoU dengan Pemerintah...
BerandaNewsMeme Bom Jakarta,...

Meme Bom Jakarta, Kesadaran Anti-Teror Warga

JAKARTA – Tidak lama setelah teror bom di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis 14 Januari 2016 berbagai tayangan gambar atau foto dan video hasil suntingan bernada humor (meme atau mim) terkait tragedi itu bermunculan di media sosial.

Salah satu meme yang marak bermunculan adalah penjual sate yang tetap berjualan, meski di sekelilingnya ramainya warga setelah kejadian. “Kami tidak takut! Tetap jual sate,” begitu tulisan yang menyertai gambar.

Pakar psikologi sosial Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Faturochman, melihat meme semacam itu menjadi aksi perlawanan atau anti-teror terhadap tragedi yang baru saja berlangsung.

“Bukan tidak sensitif, tapi bagi sebagian yang membuat meme ada kesadaran harus melawan,” katanya saat dihubungi ANTARA News di Jakarta, Sabtu 16 Januari 2016.

Ia mengemukakan, bentuk perlawanan atau aksi anti-teror bagi setiap orang bisa berbeda satu sama lainnya. Bagi mereka yang tidak memiliki senjata, maka membuat kejadian tersebut sebagai bahan tertawaan menjadi pilihannya.

Apalagi, di tengah masyarakat beredar pesan berantai yang meminta masyarakat tidak menyebarkan gambar korban maupun kejadian tersebut karena akan menjadi bukti keberhasilan serangan para pelaku.

“Salurannya ke mana? Ya dagelan ini,” katanya.

Ketika melihat bom, sebagian orang langsung merasa munculnya ketakutan, lalu berubah menjadi bingung. Setelah itu, di antara mereka muncul keinginan untuk mengetahui dan mempelajari kejadiannya.

Hasil analisis diri terhadap kejadian tersebut membuat orang menyimpulkan kejadian tersebut tidak berkeprimanusiaan. Dalam ilmu psikologi, hal seperti itu dikenal dengan sebutan regulasi emosi, mencampurkan stimulus dengan pikiran lalu berdampak pada emosi yang dikeluarkan.

Misalnya, bila awal merasa takut, belakangan merasa sedikit menggelikan. Menariknya, pada hari itu juga, masyarakat sendiri tergerak untuk tidak membiarkan teror menguasai mereka.

Ia menilai, candaan tersebut ada yang bersifat cerdas dan ada pula yang tidak sensitif. Tetapi, manajemen teror dalam setiap orang memang berbeda-beda.

“Yang diolok-olok itu terorisnya, itu cara untuk merespon,” ujarnya.

Selain meme penjual sate, ada juga gambar candaan yang menunjukkan polisi bersembunyi di balik mobil sambil memegang pistol menyerang teroris, sementara itu warga sipil berada beberapa meter di belakang polisi tidak terlindungi apa pun.

Orang-orang itu terlihat sedang menonton aksi baku tembak polisi dengan teroris.

Menurut Faturochman, orang Indonesia memang memiliki karateristik yang berbeda bila dibanding dengan orang Eropa atau Amerika.

“Orang Indonesia memang santai,” katanya.

Contohnya, setiap hari saat bertemu orang lain biasanya orang Indonesia tersenyum atau tertawa.

Selain itu, umumnya masyarakat tidak mengetahui standar operasional apa yang harus dilakukan ketika berhadapan dengan bencana, sehingga malah berkerumun di dekat kejadian. Mendekat ke tempat kejadian juga dapat dipicu oleh keinginan untuk membantu, ujarnya menambahkan.[]

Sumber: antaranews.com

Baca juga: