Oleh Taufik Sentana

“Bila Kami (Allah) Menghendaki, Kami bisa menjadikan air hujan itu asin rasanya” Alquran.

ADA rahasia besar dari bahagia yang membuat manusia semakin penasaran. Sebagian dari kita menganggap kebahagiaan itu pencapaian. Sebagian lagi menjadikan kebahagiaan sebagai proses yang terus dilalui dalam prinsip yang diyakini. Jadi, apakah kebahagiaan identik dengan apa yang tampak oleh kita?

Ada bayi yang baru lahir dan sepertinya itu merupakan  kebahagiaan. Dalam beberapa kejadian tangisan bayi yang baru lahir tadi bisa  menjadi bagian yang tragis.

Dalam literatur Islam, kebahagiaan tidak dijadikan sebagai term yang khusus.Hanya saja kebahagiaan tersebut ditautkan ke kata-kata: nikmat, kebaikan, kenenangan yang besar, takwa, agar kamu beruntung dan sebagainya. Misal, perintah menyembah Allah dikaitkan dengan takwa. Tegakkanlah shalat untuk mengingatku. Bukankah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. 

Hal ini mengindikasikan bahwa kebahagiaan itu hendaknya melekat dalam setiap aktivitas, yang sejalan dengan ketaatan akan-Nya. Kebahagiaan hendaknya menjadi rangkaian sikap rela, gembira dan MAKNA walau hanya dari sekadar senyum atau sedang menyaksikan pohonan yang  mulai berbuah.

Kata MAKNA dari paragraf di atas menjadi kata kunci dalam upaya mencicipi bahagia dalam keadaan apapun. Rasa dan nilai kebermaknaan ini yang perlu dikonstruksi menjadi pengalaman baru, walau yang kita alami hanya peristiwa biasa dan rutinitas  saja. Hingga ada ajaran tasawuf menyebutkan untuk rela mengucapkan alhamdulillah terhadap yang akan kita terima dan alami pada esok hari.

Banyak sekali hal dan peristiwa kecil ataupun aktivitas rutin yang bisa mendatangkan kebahagiaan.Mari coba cicipi beberapa hal berikut agar semakin semarak  perayaan 17-an kita tahun ini:

Secangkir air
Tampaknya sangat sederhana. Tapi cobalah membayangkan sejenak bagaimana proses segelas air itu sampai ke tenggorokan kita. Bagaimana pula bagi yang mesti disuntik berhari-hari agar sang tubuh tak kurang cairan. Dan betapa indahnya bila setiap teguk itu kita sisipkan basmalah hingga elemen air dalam cangkir tersebut semakin diberkati dan bahagiapun menjadi lekat di sel-sel tubuh kita.

Sehela nafas
Kita mungkin bisa tidak makan hingga tujuh hari dan tidak minum selama tiga hari.Tapi, bisakah kita tak menghela nafas lima menit saja?. Betapa ringannya sehela nafas dan alangkah payah bagi kita untuk merasakan bahagianya. Sedang  seliter nafas berupa oksigen bisa seharga 80.000 rupiah, sementara kita memerlukan berpuluh liter perhari. Untuk sampai hal ini, kita hanya perlu mengingat betapa pentingnya sehela nafas, disamping membiasakan diri untuk beri'tibar dari sejawat yang sakit.

Sekejap pelukan
Dalam hari-hari yang sibuk, banyak hal yang terlewatkan. Apakah arti sebuah pelukan bagi orang tersayang seperti pasangan sah dan anak? Juga bisa memeluk hangat ayah-ibu kita?  Para ahli terapis menyebutnya penghubung cinta yang sederhana. Memeluk anak, misalnya, selama 15 detik saja bisa menghilangkan potensi negatifnya, menyembuhkan dan membangun harga diri.Murah dan mudah, baik dilakukan tiga kali menurut beberapa saran.

Selembar receh untuk diinfaqkan
Adalah malaikat Rahmat yang setiap pagi (dalam hadis sahih) selalu berkata, “Berikan pengganti bagi yang berinfaq hari ini. Dan berilah kehancuran bagi yang menahan hartanya” Alangkah sempurna hari kita bila dapat kita terapkan pendekatan ini, walau hanya dengan selembar receh dan sebatas kemampuan kita.Adapun infaq mesti bersyarat berupa benda sedangkan sedekah bisa berupa apa saja, entah zikir atau menghindarkan duri dari jalan.

Sejurus pandang ke awan dan tumbuhan.
Mampu melihat saja merupakan bahagia tak terkira. Tapi sayangnya, terkadang kita abai memaknai kembali hal-hal biasa yang kita lihat saban hari.Memang begitu adanya,hal biasa bisa memudar maknanya. Hingga perlu kita bersadar diri saat menyaksikan ciptaan Tuhan yang melimpah di sekitar kita. Kitalah yang memaknai dengan defenisi baru agar kebahagiaanpun melimpah untuk kita. Insyaa Allah.[]

Taufik Sentana
Bergiat di Rumah Bahagia bersama enam orang anak
dan seorang istri sambil terus mencoba berkarya, bermakna dan belajar berbahagia. 
Penulis dalam dua buku bersama Ikapda (ikatan keluarga alumni darularafah), “Berani Hidup tak Takut Mati” dan “Logika Kemuliaan Hidup”-menerobos modernitas-. Buku kedua berisi aplikasi dari pelajaran hafalan mutiara @Mahfuzat: tulisannya, pendidikan sebagai proses qum!