Oleh Arief Arbianto
Yang selalu belajar tentang bahagia

Manusia diciptakan Allah SWT untuk bahagia. Untuk bahagia, Allah menurunkan perintah untuk beribadah kepadaNya dan menjauhi yang Allah larang. Balasan dari apa yg kita lakukan adalah kebahagiaan di surga.

Nabi Adam tinggal di surga sejak diciptakan. Bahkan Allah menghadirkan Siti Hawa untuk menemani Adam AS untuk bahagia di surga. Tapi dengan satu larangan yang dilanggar, kebahagiaan itu dicabut. 

Rejeki kita ini seperti pipa yang diisi air. Air yang dari sumber mata air itu mengalir dari pipa-pipa tersebut. Namun dosa-dosa dari yang kecil hingga besar menempel di pipa. Jika tdk tobat, semakin lama dosa-dosa itu akan menutup pipa yang mengalirkan rejeki.

Kebahagiaan harus diciptakan. Bahkan dalam banyak kondisi, kebahagiaan itu harus dipancing. Kebahagiaan dipancing dengan sedekah, dengan kebaikan, dengan kesabaran. 

Ada kekuatan besar yang Allah berikan kepada manusia, bukan kepada makhluk yang lain. Yaitu pemikiran, yang makhluk lain tidak memilikinya. 

Apa yang kita peroleh itu adalah hasil dari yang kita pikirkan. Jika kita berfikir positif, maka kita akan melakukan amal positif yang akan dibalas dengan hal yang positif. 

Maka atur cara anda berfikir, atur yang anda pikirkan. Maka anda akan mendapatkan apa yang anda pikir. Pikiran alam bawah sadar kita berpengaruh 88% terhadap apa yang kita lakukan dan terima.

Untuk merubah kehidupan, yang pertama kita lakukan adalah merubah cara berfikir kita. Jika kita berfikir bisa, maka Allah akan membisakan kita.

Mari kita mencari kebahagiaan yang hakiki dengan terlibat secara langsung pada misi-misi Allah dan Rasulullah SAW yaitu dengan menjaga estafet dakwah/risalah Islam.[]

Kiriman Taufik Sentana
*Berdasarkan muatan ceramah subuh Ust. Muslem, di Masjid Annur Rundeng. Beliau adalah Dai dan Praktisi Sekolah Islam di Subulussalam.# Rihlah Dakwah ke Aceh Barat, 22 Agustus 2019.