Kemarin saya baru memarahi anak buah saya. Posisi mereka manajer dan personalia. Kata “tidak ada” dan “tidak bisa” mudah sekali mereka ucapkan.

Saya minta mereka melihat sebuah gambar. “Sudah kami lihat, pak, gak ada gambar yang bapak maksud,” ucap manajer dan diiyakan personalia.

Sayapun membuka gambar rancang bangunan itu. “Kebiasaan kalian mata dan otak jarang singkron maka mudah membantah,” kata saya sambil menunjuk lembaran yang saya buka.

Usai reda marah saya, sambil bercanda saya katakan, “Jika kalian ke China dan mati kecelakaan di sana, maka organ utama kalian yang diambil adalah otak kalian, sebab umurmu 30 tapi otak baru kamu pakai 15 tahun”.

 Mereka pun senyum senyum kecut.

Sahabat!!!

Tubuh itu membahasakan jiwa kita. Apa yang tergambar di otak kita, maka energi akan mengarah ke sana. Ketika menghadapi masalah, kemudian kita dengan mudah merasa kita tidak mampu. Maka berhentilah seluruh upaya naluriah kita untuk mencari jalan keluar.

Begitu juga ketika dengan mudah kita memvonis tidak bisa. Maka seluruh energi dan jiwa kita berhenti. Dan kita akan menutup peluang dan mematikan upaya. Otak dan indra berhenti mencari dan memberi solusi.

Banyak di antara kita gagal mencapai impian. Atau gagal menyelesaikan masalah. Sebab kita dengan mudah memvonis kita tidak bisa. Atau merasa tidak bisa. Padahal seluruh upaya belum kita lakukan.

Bahwa seluruh potensi kita belum kita kerahkan sepenuhnya. Namun kebiasaan mengambil kesimpulan. Membuat otak kita tumpul menformulasikan akal. Akhirnya indra kita pun tidak lagi mencari pola. 

Jadi, sukses dan sabar itu adalah upaya penuh dan sungguh-sungguh. Semua potensi akan bergerak jika Anda selalu optimis. Anda percaya Anda mampu dan bisa.

Sukses dan surga itu milik mereka yang punya tekad. Bukan buat mereka yang mengalah dan pasrah dari upaya.[]