Abusyiek (Bupati Pidie) adalah sebuah anomali. Tahun 2017 silam ketika kontestasi politik dalam arena pemilihan cabup-cawabup berlangsung, Abusyiek berlaga tanpa partai politik pengusung, padahal sang petahana kala itu didukung oleh hampir semua partai politik yang memiliki kursi di parlemen Pidie.
Di atas kertas, banyak pihak memprediksi bahwa sang petahana akan menang mudah. Namun di luar dugaan banyak orang, Abusyiek dan pasangannya malah maju sebagai jawara dalam kontestasi Pilkada tersebut dengan meraup suara 48% lebih.
Sosoknya begitu unik dan nyentrik. Peci merah yang sangat ikonik itu menjadi identitas Abusyiek bersama para pendukungnya. Di saat para pejabat daerah lain biasanya memilih mobil mewah sebagai tunggangannya selama menjadi kepala daerah, Abusyiek malah memilih minibus berjenis Toyota Hiace yang lazimnya digunakan sebagai angkutan umum di Aceh.
Anggaran 1 miliar yang rencananya dialokasikan untuk pengadaan mobil dinas Bupati Pidie dalam APBK 2017 malah dapat dilakukan penghematan lebih dari 50% dana yang diajukan, karena nilai Toyota Hiace hanya dibanderol sekitar Rp400 jutaan. Alasan Abusyiek memilih mobil tersebut cukup sederhana sekali, alih-alih pencitraan, ia menyatakan bahwa mobil tersebut memang benar adanya ingin ia difungsikan sebagai angkutan umum. Jika seandainya ia dalam perjalanan dinas dan mendapati masyarakat yang kebetulan membutuhkan tumpangan, maka ia tidak akan ragu untuk memberi tumpangan dengan kapasitas mobilnya yang luas itu.
Pertemuan mencuri “tuah”
Biasanya saya tidak begitu tertarik bertemu dengan para birokrat. Entah kenapa kali ini saya merasa cukup antusias bertemu dengan seorang Abusyiek. Hari ini, saya bersama teman-teman manajemen Sekolah Sukma Bangsa Pidie berkesempatan untuk bersilaturrahim menyambangi Abusyiek di ruang kerjanya. Beliau menyambut hangat kedatangan kami. Peci merah yang fenomenal itu tidak lepas dari kepalanya. Lalu kami larut dalam diskusi mengenai sekolah dan pendidikan di Pidie secara umum.
Di sela-sela diskusi kami, Abusyiek juga menyampaikan arah rencananya membangun Pidie ke depan. Pada titik ini saya semakin takjub dengan sosok Abusyiek. Cara berpikirnya cukup sederhana namun sangat terukur dan realistis. Gaya bertuturnya dengan aksen bahasa Aceh Pidie yang kental tidak mengurangi tajamnya analisis terhadap kebutuhan konkret masyarakat di Kabupaten yang dipimpinnya. Ia paham benar bahwa ia memiliki tanggungjawab yang cukup besar bagaimana dapat mengurangi angka kemiskinan di Pidie yang tergolong cukup tinggi, di atas angka 20%.
Abusyiek menghindari benar program-program yang terlihat canggih dan bombastis yang kemudian outputnya menguap entah kemana. Maka ia memulainya dengan membangun infrastruktur yang dibutuhkan oleh desa-desa dalam sebuah kecamatan demi menggerakkan perekonomian masyarakatnya.
Targetnya tidaklah muluk, namun sangat realistis, ia hanya menargetkan pada setiap tahunnya sudah ada satu kecamatan yang sudah mandiri secara ekonomi. Dengan 23 kecamatan yang dimilikinya Kabupaten Pidie, ia sadar benar bahwa masa kepemimpinannya tidak mungkin dapat menuntaskan apa yang telah ia mulai.
Tapi setidaknya, ia telah memulainya dengan kerja nyatanya yang harapannya dapat membawa maslahat dan kebaikan bagi masyarakat Pidie. Syukur-syukur jika implementasi programmnya dapat berjalan baik dan maksimal, kemudian hari dapat diteruskan oleh suksesornya.
Mengutip Leonardo Da Vinci, “Simplicity is the ultimate sophistication” (kesederhanaan adalah kecanggihan tertinggi). Manifestasi dari kutipan ini rasanya benar-benar tercermin dari seorang Abusyiek.
Saleum takzem keu droneuh Abusyiek.[]
*Marthunis Bukhari, M.A., Direktur Sekolah Sukma Bangsa Pidie.





