Oleh Taufik Sentana*

Kita akan memasuki Ramadan 1441 H. Tentu akan ada rencana rencana tertentu yang kita rancang. Rencana itu sebagai cara terbaik  untuk menguatkan niat dalam memaksimalkan Ramadan. Apalagi di tengah suasana pandemi Korona sekarang ini, Ramadan seakan menjadi pintu yang baik bagi semua permohonan kita.

Diantara amalan yang paling dianjurkan adalah membaca Alquran. Bila dihari biasa pahalanya hanya sepuluh kebaikan perhuruf, maka saat Ramadan, pahalanya  mencapai seratus kebaikan. 

 Bagi yang sudah jarang berinteraksi dengan Alquran, maka bulan Ramadan ini bisa dijadikan sebagai lompatan agar kembali bersama Alquran, menyibukkan diri bersama Alquran, mempelajarinya dan belajar mengamalkannya.

Mungkin saat Ramadan, suasana religi lebih mendukung kita untuk kuat membaca Alquran, mungkin kita membacanya setiap kali selesai shalat. Berbeda dengan bulan lain, seakan Alquran begitu berat untuk dibaca dan dipelajari. Seakan Alquran itu hanya “milik” anak anak, mereka lebih banyak mempelajarinya dari level terendah hingga menghafalnya.

Untuk itu, bila di bulan Ramadan ini kita masih juga merasa berat dalam membaca Alquran, mungkin kita tetap tak akan bisa melakukannya di bulan lain.

 Bila ingin menelisik kenapa Alquran itu bisa terasa berat bagi sebagian muslim  untuk membacanya? Bisa jadi karena secara mental dan ruhiyah ia asing dengan kebiasaan itu, lidah dan bibirnya kelu,walau telinganya masih suka mendengarkannya. Untuk tipe ini, ia mesti memaksakan diri dan menghayati kembali faedah membaca Alquran, yang bahkan bisa menghapuskan dosa dosa kita yang kecil.

Selain faktor mental dan dorongan iman, lemahnya diri dalam membaca Alquran dikarenakan kemampuan baca yang lemah pula, sehingga merasa tak enak sendiri. Padahal bagi yang susah membacanya akan tetap mendapatkan pahala, bahkan kesusahannya itupun menjadi tambahan kebaikan di sisi Allah.

Adapun faktor khusus yang menyebabkan  sebagian kita merasa berat dalam membaca dan mempelajari Alquran adalah karena sifat Alquran itu sendiri yang penuh dengan semua muatan kebaikan, kebenaran dan keagungan serta janji keabadian di Akhirat. Ditambah lagi dengan ” berat” nya balasan yang kita terima hanya dengan membacanya dengan ikhlas dan khusu'. 

Beratnya “rasa” dalam terus membacanya hendaklah menjadi penguat kita dagar terlatih mengalahkan kesenangan nafsu, (bisikan syeitan) sebab bagaimanapun, bagi yang yakin, Alquran adalah penawar dan jaminan rahmat dari Allah.

 Maka seberat apapun itu, paksalah diri untuk terus membacanya, selulit apapun. Ketahuilah bahwa Allah takkan menyiakan (menghilangkan) amalan mereka yang berbuat baik, selama amalan itu karena dorongan niat dan iman yang benar.[]

*Ikatan  DaiIndonesia. Kab. Aceh Barat.