Petir besar menyambar kantin sekolah di Aceh Utara sehingga menimbulkan korban jiwa. Menurut Kepala Humas BNPB Sutopo Purwonugroho dalam keterangannya, Sabtu, 7 Oktober 2017, akibat petir tersebut, 13 orang menjadi korban.
“Di mana 2 orang meninggal dunia, 1 orang luka kritis, dan 10 orang luka ringan dan trauma,” beber Sutopo.
Sebagian dari 13 orang yang menjadi korban itu adalah siswa SMP Al Alaq yang berlokasi di Kompleks eks-Perumahan PT Asean Aceh Fertilizer (AAF), Desa Paloh Lada, Kecamatan Dewantara. Saat tersambar petir, mereka semua sedang berada di dalam kantin sekolah tersebut untuk berteduh dari hujan yang deras.
Mengapa mereka bisa tersambar petir padahal sudah berlindung di dalam kantin?
Dikutip dari laman Storm Highway, lokasi bawah pohon merupakan salah satu tempat paling berbahaya ketika hujan deras. Orang yang berdiri di bawah pohon lebih rentan untuk tersambar petir ketimbang orang yang berdiri di area terbuka.
Sebab, listrik dari petir mencari jalur rambat yang memiliki resistensi atau hambatan paling kecil, dan kelembapan pada getah dan air di dalam pohon merupakan konduktor atau penghantar listrik yang jauh lebih baik daripada udara. Alhasil pohon merupakan jalur atau medium yang disukai petir untuk mencapai tanah.
Sebagiamana dalam keterangan diberikan Sutipo, petir besar yang muncul saat hujan deras di Aceh Utara itu tiba-tiba menyambar pohon yang berada di atas kantin tersebut sehingga aliran petir langsung menyambar para korban yang berada di dalam kantin.
Secara khusus, National Geographic (NatGeo) pernah menulis imbauan untuk menghindari berada di tempat-tempat perlindungan yang berada di dekat atau di bawah pohon-pohon tinggi di mana pun ketika sedang terjadi hujan yang disertai petir. NatGeo mengimbau agar orang-orang menghindari objek-objek tinggi apa pun ketika sedang terjadi petir, juga menghinduri benda-benda terbuat dari logam seperti pagar ataupun pipa-pipa bawah tanah.[] Sumber: kumparan.com



