APA yang kebanyakan orang tidak ketahui adalah Swiss harus memilih kebijakan netral karena selama berabad-abad mereka adalah negara bagi tentara-tentara bayaran.

Saya sedang duduk di sebuah gua di Swiss bagian selatan, menikmati risotto versi setempat yang diolah dengan merlot lokal, dikelilingi oleh pegunungan hijau yang indah dan menyusuri jalanan dari sebuah desa batu yang berusia berabad-abad, yang hingga hari ini telah menolak listrik.

Kedua orang teman makan siang saya berkebangsaan Swiss, meskipun salah satunya berbicara dengan bahasa Itali, dan yang satu lagi lebih menyukai berbahasa Jerman.

Demi saya, mereka kemudian beralih ke bahasa Inggris. Saya tersenyum puas; saat-saat multikultural semacam ini biasa terjadi selama beberapa bulan perjalanan saya di Swiss, dan saya pikir saya telah memiliki kenetralan yang terkenal di negara itu untuk disyukuri.

Gampong yang sangat tua ini selamat dari dampak berbagai perang di Eropa karena di sini perang tak pernah terjadi. Perbatasan-perbatasan Swiss terbuka dan bersahabat karena ihwal yang sama.

Orang-orang dapat melakukan perjalanan ke sana semudah perjalanan bahasa dan makanan, karena itulah setiap orang dari Ticino berbahasa Italia, dan mengapa saya makan apa yang Anda kira sebagai hidangan Italia yang dibuat dengan apa yang Anda kira sebagai anggur Italia.

Bahkan cara negara ini terbentuk tampaknya seperti lambang hidup berdampingan yang penuh kedamaian.

Secara politik mereka menganut demokrasi langsung; secara kultural negara ini mengenal empat bahasa; dan saat Anda melintasi beberapa kanton, Anda akan merasa seperti sedang mengunjungi empat negara: Italia (di Ticino), Jerman (di Zurich), Prancis (di Jenewa) dan keturunan unik Kekaisaran Romawi (di Grisons)

swissHak atas foto AGF/GETTY IMAGES

Image captionBenteng-benteng di Bellinzoba, perbatasan Swiss dengan Italia, jelas-jelas menunjukkan perebutan tanah di abad pertengahan.

“Dampak-dampak netralitas ada di mana-mana,” kata Clive Church, seorang profesor emeritus Studi Eropa di Universitas Kent, Inggris dan penulis beberapa buku tentang sejarah dan politik Swiss.

“Coba Anda beritahu saya,” tambahnya, “Di mana kota di Swiss yang rusak karena bom?”

Jawabannya: tidak ada. “Anda dapat pergi ke kota manapun di Swiss dan Anda dapat melihat tempat-tempat yang telah berkembang secara organik karena tidak pernah terjadi pendudukan di sana. Anda menikmati kenetralan secara visual karena semua masa lalu ada di sana.”

Dengan berjalan melalui kota yang seperti negeri dongeng di negara ini, sangat mudah melihat bahwa apa yang dia katakan memang benar.

Seluruh kota tua Bern, ibu kota Swiss, merupakan Situs warisan dunia Unesco yang penuh dengan arcade-arcade bersejarah, bangunan-bangunan batu pasir, dan air mancur-air mancur, ditambah dengan menara jam yang terkenal, yang dibangun di tahun 1530.

Di sisi lain dari negara ini, Chur, kota tertua di Swiss, telah melestarikan reruntuhan Romawi dengan selamat (mereka ditempatkan di dalam sebuah paviliun yang terpisah karya arsitek lokal Peter Zumthor)

Dan di Bellinzona, Anda dapat menyusuri benteng-benteng dari tiga kastil abad pertengahan yang masih berdiri atau menjelajahi wilayah desa-desa batu yang bersejarah.

Meski begitu, banyak pengunjung yang tidak memiliki banyak petunjuk tentang kenetralan Swiss saat ini -atau masa lalu militernya.

swissHak atas foto TIM GRAHAM/GETTY IMAGES

Image captionIbukota Swiss, Bern, bangga akan arkad-arkad bersejarah, bangunan batu pasir dan air mancur.

Dan orang-orang Swiss merupakan pemenang yang dapat diandalkan, jadi hal ini berlanjut dan menjadi sumber pendapatan yang baik -sampai mereka kalah.

Mereka datang ke Pertempuran Marignano, di tahun 1515 ketika orang-orang Prancis dan Venesia tiba dengan artileri dan tentara bersenjata, dan orang-orang Swiss hanya membawa tombak dan tongkat. Sayangnya, kemajuan teknologi tak bisa mereka atasi.

“Setelah kekalahan itu, mereka menyadari bahwa mereka adalah tentara yang baik dengan cara mereka, tetapi tombak tidak dapat mengalahkan pasukan artileri,” kata Church.

“Kemudian mereka mengundurkan diri dari keterlibatan mereka pada hal-hal yang berbau politik.”

Lalu orang-orang Swiss itu yang menyewakan diri mereka kepada Prancis, yang tetap menyembunyikan mereka dan juga mengatasi ketidaknyamanan yang kadang-kadang terjadi ketika mereka saling berperang sendiri karena berada di dua pihak berbeda dalam suatu pertempuran.

“Hal itu tidak terjadi setiap saat, tetapi ketika terjadi akan sangat mengkhawatirkan dan mendorong mereka untuk bergerak ke netralitas,” kata Church.

Selama masa ini, jelaslah bahwa Swiss telah bertarung di terlalu banyak perang untuk terlalu banyak pihak sehingga kesulitan untuk dapat memilih satu pihak saja untuk jangka panjang, terutama bila semua kekuatan besar menginginkan Swiss berpihak pada mereka karena letak negara ini yang strategis dijaga pegunungan Alpen.

Jadi ketika Kongres Wina berlangsung di tahun 1814 – 1815 untuk memilah perdamaian Eropa setelah Perang Revolusi Prancis (saat itu orang-orang Swiss masih bertugas sebagai tentara sewaan bagi monarki Prancis, termasuk raja terakhir, Louis XVI) dan Perang Napoleon (di mana Prancis menduduki Swiss dan menghancurkan konfederasi lama), orang-orang Swiss mengajukan win-win solution yang elegan untuk seluruh benua: biarkan kami bersikap netral.

Penetapan ini adalah kunci. Seperti yang ditunjukkan oleh Goetschel, “Netralitas menjadi masuk akal jika kekuatan-kekuatan lain mengakuinya.”

swissHak atas foto BLOOMBERG/ GETTY IMAGES

Image captionUntuk mengenal politik domestik Swiss, para pengunjugn dapat melakukan tur Parlemen di Bern.

Logika yang sama menyebabkan pembangunan jaringan bunker, rumah sakit dan tempat perlindungan di bawah tanah selama Perang Dunia ke dua -beberapa tempat di antaranya dapat dikunjungi pelancong saat ini, termasuk di Vitnau, Vallorbe dan Sasso San Gottardo.

Sedangkan untuk Angkatan Bersenjata Swiss saat ini, Anda bisa menemukannya di seluruh negeri. Saya pernah menumpang bis kota yang dijejali para serdadu muda di Chur, dan pernah pula menonton penyerahan bendera dari prajurit yang baru lulus kepada taruna-taruna militer yang baru masuk dalam suatu upacara yang megah di sebuah lapangan di Zurich.

Tetapi Anda tidak harus tergantung pada keberuntungan jika hendak mengamati berbagai buah modern yang dipetik dari netralitas Swiss.

Siapapun dapat melakukan tur ke Gedung Parlemen di Bern (untuk mengenal tentang politik lokal); ke pusat riset internasional CERN yang separuh berada di Swiss dan sebelahnya lagi di Prancis (untuk melihat bagaimana kebijakan itu telah menghasilkan kemajuan dalam sains); dan kantor PBB Di Jenewa.

Menariknya, Swiss hanya menjadi anggota Perserikatan Bangsa-bangsa di tahun 2002. Dan jauh lebih menarik lagi, Swiss masih tidak merupakan anggota Uni Eropa.

Anda juga dapat menjaga mata, kuping dan mulut tetap terbuka saat Anda bepergian – mencari budaya Swiss yang unik, juga bahasa dan kuliner negara-negara yang berurusan dengan mereka -dalam damai dan perang -selama berabad-abad.[]Sumber:BBC


Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel yang berjudul Why Switzerland never takes sides ini di BBC Travel.