Suatu ketika saya memelihara banyak ayam, bebek dan lele di tempat usaha saya. Beranak pinak tidak pernah saya jual. Saya sedekahnya saja untuk dimakan karyawan. Atau saya hadiahkan buat bibit peliharaan yang dibawa pulang mereka.

“Berapa biaya BBM-mu sehari pulang pergi kerja?” tanya saya pada seorang mekanik.

“Rata-rata Rp10 ribu, pak,” jawabnya.

Sahabat!!!

Korelasi yang akan saya jelaskan dari tanya jawab itu. Mereka tahu, lihat dan menikmati ternak peliharaan saya. Tapi tidak satupun berinisiatif melakukan hal yang sama. Walau saya pernah menganjurkan. Padahal dari puluhan karyawan, nasi sisa mereka saja mencukupi buat makan ternak itu.

Atau ada 4 petak bekas bak air pabrik lama yang bisa membesarkan lele. Mereka bisa patungan.

Logika saya ke mereka. Jika dari ayam, bebek atau lele kamu dapat untung Rp50 ribu sebulan. Maka kamu telah menghemat Rp50 ribu gajimu. Berapa keuntungan? Jadinya Rp100 ribu. Darimana? Uang BBM hemat Rp50 ribu. Dengan begitu Rp50 ribu jadi tabungan atau digunakan ke tempat lain. 

Maka mainset-lah yang mampu mengubah kita. Bahwa kita sering lupa menghitung hal kecil. Atau menggunakan ekstra tenaga untuk mendapat nilai lebih. Padahal uang kecil itu sangat berarti. Uang Rp50 ribu hasil ternak di lokasi kerja. Hemat BBM Rp50 ribu. Rp50 ribu bisa buat baju anak-anak, dan seterusnya.

Kemiskinan, kemelaratan, kesusahan atau kekurangan. Sesungguh lebih disebabkan pada pola pikir kita. Kita tidak kreatif dalam meningkat nilai tambah. Kita anggap kecil pendapatan sporadis.

Sesungguhnya efek domino dari uang kecil itu bisa berimbas besar. Potensi kecil yang kita abaikan sebenarnya malah menjadi mata rantai yang efektif. Membantu kita menyelasaikan kebutuhan hidup.

Tuhan tidak menjanji sesuatu tanpa usaha dan doa. Usaha menjadi syarat wajib agar tuhan mensahihkan mimpimu. Tak ada yang kecil untuk sesuatu rezeki.[]