LHOKSUKON – Mengikuti ajang pemilihan Duta Wisata semata-mata hanya ingin meng-upgrade prestasi dan meningkatkan kualitas diri. Tampil sebagai juara itu merupakan bonus tak terduga dan sebuah pencapaian yang membanggakan. Sebagai putri daerah, ia ingin memperkenalkan Aceh ke dunia luar melalui destinasi wisata yang ada.

 Hal itu disampaikan Dea Nadhila, Duta Wisata Aceh Utara 2018, kepada portalsatu.com/, Minggu, 24 Juni 2018. Gadis manis berusia 22 tahun itu tercatat sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Malikussaleh (Unimal). Dea merupakan anak bungsu dari dua bersaudara, buah cinta dari pasangan suami istri Sayuti Ma'in dan Hayatun Rahmah.

“Saya mengikuti ajang duta wisata beranjak dari dunia seni tari yang selama ini saya tekuni. Sebagai putri daerah, saya sadar sudah sepantasnya ikut andil berkontribusi dan berperan aktif dalam mempromosikan dan lebih memperkenalkan Aceh Utara, khususnya  dalam bidang kepariwisataan. Karena Aceh Utara memang kaya akan potensi alamnya,” ujar Dea, demikian ia kerap disapa.

Terpilih sebagai Inong Duta Wisata Aceh Utara 2018, kata Dea, itu merupakan sebuah pencapaian luar biasa. Dea pun berterima kasih kepada semua pihak yang mempercayakan dirinya sebagai Duta Wisata Aceh Utara 2018.

“Rasanya bangga dan haru, bahkan masih saya rasakan hingga saat ini. Insya Allah saya dan Agam Fandi siap memberikan dedikasi terbaik dan komitmen kami untuk kemajuan pariwisata di Aceh Utara, selama masa bakti satu tahun ke depan. Mohon doa dan dukungannya pula untuk saya Inong Dea Nadhila dan Agam Fandi Pramudya, semoga kami bisa kembali meraih kesuksesan membawa harum nama Aceh Utara di ajang Pemilihan Duta Wisata Aceh (PDWA) tingkat provinsi mendatang,” ungkap pemilik kulit sawo matang dengan tinggi 163 centimeter itu.

Selama ini, Dea aktif di beberapa komunitas sosial dan organisasi di dalam atau di luar kampus. Saat ini Dea sedang menyelesaikan tugas akhir untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi (S.I.Kom).

“Salah satu lokasi wisata andalan yang patut dikunjungi di Aceh Utara adalah Kompleks Makam Sultan Malikussaleh. Karena wisata religi dan sejarah ini menjadi ikon dari Kabupaten Aceh Utara. Di sini kita bisa melihat bukti nyata sejarah Islam, di mana Aceh Utara menjadi bagian yang tak terpisahkan dari silsilah peradaban Islam di nusantara. Lokasi ini juga dapat menjadi nilai edukasi bagi para wisatawan melalui cerita-cerita sejarah yang akan dituturkan oleh para tour guide di sana,” kata Dea.

Dea mengajak seluruh muda-mudi di mana pun berada, khususnya di Aceh Utara untuk terus mengukir prestasi baik di bidang akademik maupun non-akademik.

“Jadilah kawula muda yang terus menebarkan manfaat baik. Semoga kita menjadi generasi muda yang mampu berkarya, mandiri, islami, dan tentunya semua dari kita merupakan tourism ambassador. Marilah sama-sama kita menjaga dan mampu mengangkat informasi terhadap perkembangan objek wisata di Aceh Utara agar dikenal hingga ke seluruh pelosok negeri,” ujar Dea.[]