BANDA ACEH – Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Langgang Jaya Pratama atau LJP, Aceh Besar, memperoleh penghargaan dari Kementerian Pertanian. Lembaga didirikan Muhibuddin, pemuda Lambaro Bileu, itu menjadi sarana menuntut ilmu dan pelatihan bagi petani. Salah satu bidang usaha P4S itu, pengolahan pupuk organik padat dan cair. Muhibuddin pun ingin mewujudkan impiannya, “meningkatkan produksi pupuk mencapai 500 ton di 2019”.
***
Langgang Jaya Pratama adalah salah satu dari sembilan P4S berprestasi se-Indonesia yang memperoleh pernghargaan Kementerian Pertanian (Kementan) tahun 2018. Langgang Jaya Pratama dan dua P4S lainnya mendapatkan anugerah untuk Kelas Madya. Enam P4S lainnya, tiga di antaranya menerima penghargaan Kelas Pratama, sisanya Kelas Utama.
Penghargaan tersebut diserahkan bertepatan dengan HUT ke-73 Kemerdekaan RI, di Auditorium Gedung D Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, 17 Agustus 2018. Total 27 petani, penyuluh, dan gabungan kelompok tani atau Gapoktan, mendapatkan Penghargaan Tingkat Nasional bagi Pelaku Pembangunan Pertanian Tahun 2018, termasuk sembilan P4S, salah satunya Langgang Jaya Pratama.
“Penghargaan tahunan ini dilakukan untuk mewujudkan pelaku utama dan pelaku usaha yang andal. Memberi motivasi dan memacu mereka agar mau dan lebih aktif dalam menjalankan fungsinya,” kata Sekretaris Jenderal Kementan, Syukur Iswantoro, mewakili Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dikutip portalsatu.com/ dari katadata.co.id.
Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Siti Munifah, menegaskan sektor pertanian berperan strategis. Selain sebagai penyedia pangan rakyat Indonesia, juga berkontribusi nyata dalam penyediaan bahan baku industri, bio-energi, penyerapan tenaga kerja, sumber devisa negara, sumber pendapatan rakyat, dan pelestarian lingkungan. “Tantangan kita ke depan, dengan laju pertumbuhan penduduk Indonesia yang sekitar 1,49 persen, tentu membutuhkan pangan dalam jumlah yang besar,” katanya.
Persaingan tingkat internasional semakin ketat dan fenomena perubahan iklim menjadi tantangan lain yang harus dijawab pelaku utama dan pelaku usaha pertanian. “Ini tentu sangat terkait dengan kerja keras para penyuluh pertanian,” ujar Munifah.
Para penerima penghargaan itu mendapat kesempatan mengikuti sederet agenda nasional pada peringatan kemerdekaan. Mereka menghadiri Rapat Paripurna DPR, DPD RI dan Pidato Kenegaraan Presiden, mengikuti Renungan Suci di Taman Makam Pahlawan Kalibata, upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi HUT ke-73 RI di Istana Negara, hingga Silaturrahim Presiden dengan para teladan.
***
Dikutip dari penyuluhanaceh.com, P4S Langgang Jaya Pratama, didirikan Muhibuddin, 6 Desember 2007. Beralamat di Jalan Blang Bintang Lama, Kilometer 9, Gampong Lambro Bileu, Kecamatan Kutabaro, Aceh Besar, P4S Langgang Jaya Pratama kini menjadi sarana menuntut ilmu dan pelatihan dalam bidang pertanian yang bermutu dan berdaya guna. Selain berguna bagi petani dari beberapa kabupaten/kota di Aceh, juga sejumlah elemen masyarakat lainnya, termasuk mahasiswa, penyuluh pertanian, dan instansi pemerintah.
Awalnya, lokasi itu hanya tempat usaha kecil-kecilan berupa penggemukan sapi milik Muhibuddin dikelola secara tradisonal alias turun temurun. Beberapa tahun kemudian Muhibuddin yang hanya menamatkan pendidikan SMA mendapat informasi adanya pelatihan tentang pertanian di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Banda Aceh. Dengan tekad ingin berubah, pria kelahiran Lambro Bileu, 6 Juli 1980, ini memberanikan diri mengikuti pelatihan tersebut.
Muhibuddin lantas menerapkan ilmu hasil pelatihan itu dan wawasan diterima dari berbagai pihak lain untuk mengembangkan usahanya. Lambat tapi pasti, usaha dari ayah tiga anak ini mulai membuahkan hasil.
Di sela-sela menjalankan aktivitas sehari-hari, Muhibuddin terus memperdalam ilmunya di bidang pertanian dengan mengikuti berbagai pelatihan, seminar, dan workshop. Pemuda 38 tahun itu juga sempat mengecap pendidikan dan pelatihan sampai ke Provinsi Sumatera Utara (pelatihan perikanan dari BPPP Medan) dan Badan Penyluhan Pertanian (BPP) Jambi.
Hal itu dilakukan Muhibuddin karena dalam jiwanya tertanam kuat prinsip, “Kalau kita mau pasti ada jalan, dan tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau berusaha”. Apalagi, sumber daya untuk mendukung usaha itu tersedia cukup banyak di kampungnya.
Lokasi usahanya di areal seluas 5.000 meter persegi, kini menjadi tempat bermanfaat bagi orang banyak. Selain bisa menampung 15 warga gampong itu sebagai pekerja, tempat itu kemudian menjadi P4S. Saat ini, P4S Langgang Jaya Pratama setidaknya memiliki empat bidang usaha, yakni pemijahan bibit lele dumbo, peternakan (penggemukan sapi), pengolahan pupuk organik padat dan cair, serta tempat pelatihan bagi petani atau pihak lain seperti mahasiswa dan penyuluh.
Untuk mendukung operasionalnya, P4S Langgang Jaya Pratama dilengkap prasarana dan sarana pendukung seperti perkarangan organik, kolam ikan, tempat ternak sapi dan domba pedaging, aula pelatihan, dan tempat penginapan bagi tamu. Pelatihan dilaksanakan Muhibuddin dan pekerjanya antara lain cara membuat probiotik bagi mahasiswa Unsyiah, melatih penyuluh pertanian tentang cara pembuatan pestisida nabati dan pupuk kompos, pelatihan pemijahan ikan lele kepada mahasiswa Unsyiah, dan pelatihan fermentasi pakan ternak untuk petani.
Muhibuddin menyebutkan, pihaknya selama ini sudah memproduksi bio hartan (pupuk organik padat) dan bio hara (pupuk cair). Sementara produk peternakan dihasilkan adalah bio farm & fishery (suplemen organik cair).
“Pelatihan yang kami lakukan antara lain tentang fermentasi limbah pertanian (limbah jerami dan batang pisang) untuk dijadikan pakan ternak. Pelatihan itu sudah kami laksanakan di Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya. Pelatihan ada yang kami laksanakan di P4S Langgang Jaya Pratama, dan juga kami datang langsung ke daerah asal peserta seperti tiga kabupaten tersebut. Kalau di Pidie Jaya, tahun lalu kami melatih petani dari enam kecamatan,” ujarnya.
Keberhasilan P4S Langgang Jaya Pratama membuat sejumlah lembaga tertarik melihat kegiatan di tempat tersebut. Di antara tamu pernah mengunjungi P4S itu adalah Kepala Bidang Penyelenggaraan dan Penyuluhan Pertanian Kementan RI, Dr. Ir. Ranny Mutiara Chaidirsyah, perwakilan PT Asabri, delegasi ASEAN, dan anggota Alumni Magang Petani Jepang.
Prestasi diukir Muhibuddin dan kawan-kawan juga mendapat apreasiasi dari pemerintah. Apreasiasi itu diterima P4S Langgang Jaya Pratama dalam bentuk penghargaan seperti sertifikat Kementan RI tahun 2016 dan dari Pemerintah Aceh penghargaan sebagai “Pelaku Pemberdayaan Masyarakat Tahun 2018”. Dalam menjalankan usahanya, P4S tersebut mendapat dukungan modal dari Bank BRI, Permodalan Nasional Madani (PMN), dan PT Asabri.
“Kalau perhatian dan pembinaan dari pemerintah, 70 persen kami terima dari Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, dan 30 persen dari Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh,” kata Muhibuddin.
Muhibuddin mengatakan, selama ini pihaknya menjadi penyuplai pupuk pupuk organik padat dan pupuk cair sebanyak 1.500 ton per tahun. Pupuk itu selanjutnya disalurkan Distanbun untuk membantu petani di seluruh Aceh.
***
Menurut Muhibuddin, kapasitas produksi pupuk padat dan cair itu terus meningkat dari tahun ke tahun. “Tahun 2007 mampu memproduksi pupuk per bulannya mencapai 2 ton. Tahun 2018 meningkat menjadi 150 ton. Di tahun 2019, kita ingin produksinya mencapai 500 ton,” ujar Muhibuddin usai menyaksikan siaran langsung Sidang Tahunan MPR lewat layar lebar di depan Gedung Nusantara III, Kompleks Gedung MPR/DPR/DPD, Jakarta, 16 Agustus 2018, dikutip dari gatra.com.
Muhibuddin berharap dunia pertanian ke depan lebih bagus dengan penerapan teknologi yang dikuasai. Menurut dia, problem dialami petani di Aceh, minimnya sarana dan prasarana pelatihan pertanian. Anggaran pertanian pun dinilai masih kurang. Padahal, potensi sektor pertanian di Aceh seperti padi, sapi pedaging, dan kopi berlimpah-limpah.[](idg/*)






