Rabu, Juli 24, 2024

Tinjau Venue PON XII,...

SIGLI - Pemerintah Kabupaten Pidie meminta rekanan terus memacu pekerjaan tiga venue yang...

Wali Nanggroe dan Mualem...

JAKARTA – Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haythar...

Balai Syura: Perempuan Aceh...

BANDA ACEH - Balai Syura Ureung Inong Aceh dan seluruh elemen gerakan perempuan...

Pemko Subulussalam dan Pemkab...

SUBULUSSALAM - Pemerintah Kota (Pemko) Subulussalam menjalin kerja sama atau MoU dengan Pemerintah...
BerandaMengenang Tentara Aceh...

Mengenang Tentara Aceh yang Memerangi Kafir Belanda 144 Tahun Lalu

BANDA ACEH –  Tim Gata Aceh melaksanakan acara bersejarah kemenangan Kesultanan Aceh melawan Kerajaan belanda di Mesjid Baiturrahim Ulee Lheu Banda Aceh.

Acara bersejarah ini dimoderatori oleh Pak Quddus Husein.

Tuwanku Iqbal selaku Plt Ketua Gata Aceh disebabkan Ketua Gata aceh Mawardi Usman sedang sakit keras dan tidak bisa ikut acara, mengatakan, perayaan acara ini sangat penting sebab di sinilah pertama kalinya bangsa Asia mengalahkan bangsa Barat dan untuk pertama kalinya dalam media dan koran dunia masa itu Aceh dibahas dengan kekaguman luar biasa berhasil menghabisi Jenderal Kohler pada 14 April 1873.

Acara ini dilaksanakan 15 April bukan 14 April disebabkan 14 April 2017 jatuh Hari jum'at.

“Seharusnya dilakukan di bawah pohon Glumpang di Mesjid Raya namun sayang pohon dan prasasti telah hilang karena pembangunan Mesjid Raya Baiturrahman karena itu dipilih Ulee Lheue tempat perang dahsyat Aceh melawan Belanda,” kata Iqbal.

Acara sambutan juga disampaikan Tuwanku Warul tentang pentinganya peringatan kemenangan Aceh melawan Belanda dan harusnya perlu ada pembelajaran sekolah.

“Mengapa pemerintah Banda Aceh sampai hari ini belum merubah nama Tuwanku Muhammad Daodsyah menjadi sultan seolah-olah pemerintah Aceh tidak mengaku Sultan Muhammad Dawodsyah sebagai sultan,” kata Warul.

Selanjutnya pembacaan Hikayat olehMuammar Al Farisi yang cukup kali ini lebih banyak dengan menggunakan bahasa Aceh tentang baju perang.

Pasukan Aceh memiliki baju direh (zirah) dan silapeh baje temaga (satu baju tembaga).

Bagaimana dahsyatya perang telihat ketika Imuem Luengbata mencincang Belanda kemudian Belanda menembak dengan meriam.

Imuem Lueng Bata terlempar pingsan setelah sadar memaki Belanda dan menantang mereka adu pedang di darat yang tidak dilayani Belanda.

Kemudian dilanjutkan penjelasan yang amat menarik dari Dr. Kamal Arif, penulis buku Ragam Citra Kota Banda Aceh.

Kamal Arif menjelaskan sejarah perang Aceh yang dahsyat dan juga menjelaskan tentang lini konsentrasi yang amat menarik bagi semua hadirin.

Kemudian tausiyah sejarah dari Ustad Ameer Hamzah tentang perlunya menjaga sejarah.

Ameer Hamzah sudah lama memperjuang Sultan Muhammad Dawodsyah menjadi pahlawan nasional.

Ia menyesalkan kebijakan gubernur Aceh menebang pohon glumpang yang merusak situs dan prasasti. Apalagi pembangunan payung telah merusak keindahan Masjid Raya, mesjid terindah di Asia Tenggara.

“Saya meminta generasi muda tetap terus berjuang menjaga sejarah Aceh,”' kata Ameer Hamzah.

Acara diutup dengan doa untuk syuhada Aceh oleh teungku imam mesjid baiturrahim Teungku Bukhari.

Setelah selesai acara diikuti makan khanduri Apam. Seperti diketahui, di Aceh bulan Ra'jab juga bulan khanduri Apam.[]

Baca juga: