Korea Utara dikenal sebagai negara komunis yang tertutup dan dikucilkan oleh peradaban dunia internasional. Sangat sedikit informasi tersedia mengenai negara tersebut. Turis secara khusus diperbolehkan mengunjungi Korut, tentu dengan didampingi seorang Guide/Pemandu, dan dijaga tentara. Sang diktator pemimpin negara tersebut, Kim Jong Un, merupakan maniak keju Swiss, sedikit ironis dengan ketertutupan dan ideologi komunis yang dianutnya. Disamping itu semua, tentu kita telah tahu pasti bahwa Korea Utara belum menyelesaikan perang dengan Korea Selatan. Kedua Korea tersebut masih berada dalam status Gencatan Senjata, tanpa ada satupun yang mau menyebut dirinya kalah.
Secara militer, Korut dapat dibilang sebagai negara yang agresif dalam melakukan provokasi. Mengumbar ancaman serangan nuklir terhadap negara tetangganya, Korea Selatan, Jepang, bahkan mengklaim jika rudal buatan dalam negerinya sanggup mencapai daratan Amerika dan Australia. Ancaman ini disampaikan secara lisan, yang meskipun demikian ditanggapi serius oleh pemerintah Amerika Serikat, dengan dihadirkan nya elemen militer mereka disana dalam bentuk USFK (US Forces Korea) yang ditempatkan di Korea Selatan.
Intro
Elemen kekuatan militer Korea Utara terdiri dari Angkatan Darat, Udara dan Laut Rakyat Korea atau Korea People’s Army, Korea People’s Air Force, dan Korea People’s Navy. Alutsista yang dimiliki oleh Korea Utara kebanyakan berasal dari era Uni Sovyet. AU mereka masih mengandalkan pesawat jet tempur MiG generasi awal 60an hingga 70an. AD mereka sedikit lebih baik dengan memiliki produk buatan dalam negeri, yang juga merupakan pengembangan dari alutsista lama. AL Korea Utara sendiri dapat dikatakan cukup misterius, banyak pengamat pertahanan meyakini bahwa AL Korea Utara merupakan satu dari sedikit pemilik dan operator kapal selam dengan jumlah terbanyak di muka bumi. Secara khusus, HobbyMiliter mencoba meghadirkan kepada anda sekilas tentang armada kapal selam yang dimiliki oleh Korea Utara, dan seberapa besar pengaruhnya bagi keamanan kawasan semenanjung Korea itu sendiri.

Gorae, Kapal Selam Balistik Milik Korea Utara. Foto: pinterest.com
Armada Kapal Selam Korea Utara
Korea Utara (Korut) tentu mempunyai hak untuk menjadi negara dengan kekuatan Angkatan Laut yang mumpuni. Meskipun negara ini dikenal tertutup dan ‘dikucilkan’ dari peradaban internasional, tentu dunia menghargai keinginan Korea Utara yang ingin menunjukkan eksistensi kekuatan militer terutama di matra laut dengan Korea People’s Navy atau KPN nya. Sayangnya, masyarakat dunia internasional lebih suka menyebut kekuatan laut Korea Utara sebagai “Udang ditengah dua Ikan Paus besar”. Dua ikan paus besar yang dimaksud sudah pasti ialah Angkatan Laut Jepang (Japan Maritime Self Defense Force-JMSDF, red) dan Angkatan Laut Rakyat China (People’s Liberation Army Navy – PLA-N, red).
Jangan membayangkan kekuatan armada Angkatan Laut Rakyat Korea Utara atau Korea People’s Navy (KPN) sebagai Angkatan Laut yang modern. Jajaran kapal perang dalam armada AL Rakyat Korea merupakan warisan dari teknologi Uni Sovyet di era 70-80-90’an. Jajaran kapal perang kombatan permukaan utama (singkatnya disebut major surface combatants) milik KPN pun dapat dihitung dengan jari.
Namun demikian, banyak pengamat militer internasional, serta beberapa pejabat militer AS yang selalu menaruh perhatian pada satu kecabangan dari Angkatan Laut Rakyat Korea tersebut. Ya, adalah satuan kapal selam milik KPN yang tidak pernah lepas dari pantauan mata para analis dan pengamat militer barat, serta tentunya, pantauan satelit – satelit mata – mata AS dan Sekutunya di Asia-Pasifik. Korea Utara diperkirakan mengoperasikan tidak kurang dari 65 sampai 70 unit kapal selam berbagai kelas, mulai dari kapal selam mini atau midget subs, kapal selam diesel elektrik, hingga kapal selam dengan kemampuan balistik nuklir.
Jenis Kapal Selam Milik Korea Utara
Pada medio tahun 2001, Korea Utara diperkirakan mengoperasikan sebanyak 52 hingga 67 unit kapal selam diesel elektrik. Angka ini terdiri dari 4 unit kapal selam kelas Whiskey (yang juga pernah dioperasikan oleh ALRI pada medio 1960-an) yang dibeli dari Uni Sovyet, serta kapal selam kelas Romeo yang dibeli dari China. Sebanyak 7 unit kapal selam kelas Romeo dikirimkan dalam bentuk jadi, sedangkan unit – unit lainnya dikirimkan dalam bentuk terpisah, membuat Korut akhirnya mampu melakukan perakitan kapal selam di dalam negeri. Setiap unit kapal selam kelas Romeo memiliki bobot benaman atau displacement1.830 ton dalam posisi menyelam atau submerged. Kecepatan maksimal kapal selam ini didalam air ialah 13 knot. Adapun awak yang diperlukan untuk mengoperasikan kapal selam ini yakni sebanyak 54 orang. Kapal selam kelas Romeo dipersenjatai dengan 8 unit tabung peluncur torpedo kaliber 533 milimeter standar dengan dua tabung diantaranya terletak pada buritan kapal.
Meskipun demikian, secara umum kapal selam ini dianggap sudah tidak layak pakai oleh sebagian pihak. Pada tahun 2015, Pentagon mempercayai bahwa Korea Utara masih mengoperasikan setidaknya 70 unit kapal selam dari berbagai tipe dalam jajaran dinas aktif KPN. Sementara itu, sebuah laporan multinasional dalam investigasi kejadian tenggelamnya kapal perang AL Korea Selatan, ROKS Cheonan, menyebut bahwa Korea Utara mengoperasikan sebanyak 20 unit kapal selam kelas Romeo, 40 unit kapal selam kelas Sang-O (‘Shark’) yang merupakan kapal selam dari jenis Coastal Submarine, serta 10 unit kapal selam mini atau midget submarine kelas Yo-no.
Kapal selam jenis Coastal Submarinekelas Sang-O milik Korea Utara memiliki ukuran panjang 111 kaki (34 meter), lebar total 12 kaki (4 meter) dan bobot benaman 275 ton. Di atas air, kapal selam tersebut mampu mencapai kecepatan 7.2 knot. Sementara jika di dalam air, ia mampu dipacu hingga 8.8 knot. Ada dua versi kapal, satu dengan persenjataan berupa tabung peluncur torpedo, sedangkan yang kedua adalah versi dimana tabung torpedo digantikan oleh semacam chambertempat dimana penyelam komando dapat masuk dan keluar dari kapal selam tersebut. Versi khusus komando ini dirawat oleh KPN namun dimiliki dan dioperasikan oleh sebuah Biro Pengintaian Milik Departemen Maritim Korut.
Sebuah versi lanjutan dari kelas Sang-O, yang disebut Sang-O II berukuran panjang 131 kaki (40 meter) dengan bobot benaman atau displacementantara 350 hingga 400 ton saat menyelam, dan dikabarkan memiliki top speedhingga 13 knot didalam air. Varian kapal kelas Sang-O yang dipersenjatai tabung torpedo, konon tidak hanya mampu membawa torpedo saja, namun juga ranjau laut. Sedangkan versi kapal selam misi khusus komando yang dioperasikan oleh Biro Pengintaian Milik Departemen Maritim Korut diperkirakan mampu membawa 35 hingga 40 orang yang terdiri dari kru dan penumpang.
Sementara itu, Korut juga memiliki sebanyak 10 unit kapal selam midget submarinekelas Yo-no. Desain awal Yo-no dikabarkan diambil dari kapal selam sejenis buatan Iran. Dengan bobot benaman 130 ton saat didalam air, kapal selam kelas Yo-no sanggup meluncurkan 2 torpedo kaliber 533 milimeter dan diawaki oleh 20 orang pelaut. Namun kemampuan ini harus ditukar dengan penurunan kecepatan saat berada didalam air. Kapal selam midget kelas Yo-no sanggup dipacu hingga 11 knot saat di permukaan air, namun kecepatan maksimalnya turun drastis hingga hanya mampu melaju dengan kecepatan 4 knot saat berada di dalam air.
Gorae, Kapal Selam Balistik Milik Korea Utara
Armada kapal selam terbaru milik KPN saat ini dibuat dan dioperasikan dengan tujuan dan jenis misi yang sedikit berbeda dari jenis – jenis kapal selam yang telah dibahas sebelumnya. Yang paling baru, Korea Utara sedang berusaha mengembangkan sebuah jenis kapal selam dengan kemampuan membawa rudal balistik. Proyek prestisius ini sedikit mengubah arah tujuan dan jenis misi yang harus diemban oleh kapal selam KPN. Dari yang tadinya hanya sebagai unit insersi (pengiriman) pasukan komando serta unit eksekutor terhadap kapal – kapal perang musuh, menjadi makin kompleks ke arah peran strategis dalam konflik. Darisinilah, lahir satu kelas kapal selam baru dalam tubuh KPN, yakni, Gorae alias Ikan Paus.
Sesuai dengan namanya, Gorae, yang diartikan sebagai Ikan Paus, kapal selam baru ini memiliki ukuran yang besar. Merupakan kapal selam terbesar yang pernah dimiliki Korea Utara, Gorae merupakan hasil penggabungan teknologi dan wawasan pembangunan kapal selam dari China dan Uni Sovyet. Gorae dirancang sebagai elemen pengangkut dan peluncur rudal balistik milik Korea Utara. Sebagian pengamat menyebut kapal selam kelas Gorae sebagai kapal selam kelas Sinpo.
Banyak yang meyakini bahwa sebenarnya, basis desain kapal selam kelas Gorae diambil dari kapal selam kelas Golf yang dibuat oleh Uni Sovyet. Korea Utara memperoleh badan kapal selam Golf dari Uni Sovyet dengan berpura – pura membuat perusahaan untuk melakukan proses scrappingterhadap kapal selam kelas Golf tersebut. Korea Utara mulai mengimpor beberapa unit badan kapal selam kelas Golf tersebut pada tahun 1990.
Adapun kapal selam kelas Golf maupun Gorae memiliki tabung peluncur rudal yang berada tepat dibelakang menara anjungan, menyatu dengan keseluruhan bagian coning towerdari kapal selam tersebut. Tabung – tabung tersebut dipercaya akan diisi dengan rudal balistik ‘Pukkuksong-1?yang saat ini sedang dalam tahap pengembangan dan uji prototype. Jika proyek rudal balistik yang dapat diluncurkan dari kapal selam tersebut sukses, sebuah armada kecil yang terdiri dari beberapa unit kapal selam kelas Gorae dapat menghadirkan efek deterrentmaupun ancaman baru (meskipun dalam skala kecil) dimana Korut bisa saja melakukan serangan balasan atau retaliasi terhadap kekuatan negara lain yang mencoba untuk melakukan ‘pre-emptive’ strike terhadapnya.
Pengaruh Armada Kapal Selam Korut Terhadap Keamanan Kawasan
Korut bagaimanapun, mengandalkan armada kapal selamnya sebagai ujung tombak pertahanan negara sekaligus sebagai senjata pamungkas jika negara itu berada dalam posisi terdesak. Hal ini mengacu pada fakta bahwa kekuatan militer matra darat dan udara yang dimiliki oleh Korut yang secara kualitas tidak sebanding dengan kekuatan militer matra darat dan udara yang dimiliki oleh Korsel serta pasukan USFK yang ditempatkan disana.
Meskipun diisi oleh kapal selam yang tergolong ‘jadul’, armada kapal selam KPN sedikit banyak mampu menghadirkan ketakutan serta teror bagi elemen militer Korsel dan AS tentunya. Kejadian tenggelamnya ROKS Cheonan, kapal perang kelas korvet Pohang yang dimiliki Angkatan Laut Korea Selatan, pada medio 2010 menyadarkan banyak kalangan bahwa armada kapal selam milik Korut bukan lah sesuatu yang bisa dianggap remeh.
ROKS Cheonan ditenggelamkan oleh sebuah torpedo CHT-02D yang diproduksi secara mandiri oleh Korut. Diduga, torpedo ini diluncurkan dari sebuah kapal selam mini atau midget submarinekelas Yo-no. Sebanyak 46 orang pelaut Korsel yang mengawaki kapal perang tersebut tewas, sedangkan 56 lainnya mengalami luka – luka. Sementara AL Korut sukses menjalankan misi ini tanpa kehilangan satupun kapal selam atau awaknya.
Dengan hadirnya kapal selam kelas Gorae sebagai kekuatan kapal selam strategis balistik, Korut otomatis menjadi lebih percaya diri. Hadirnya kapal selam kelas Gorae atau Sinpo tentu mempengaruhi kestabilan keamanan di kawasan tersebut. Ini membuat potensi ancaman dari armada kapal selam milik Korut meningkat drastis, dari yang tadinya hanya dianggap sebagai kumpulan armada kapal selam kecil dan diesel elektrik jadul menjadi sebuah kekuatan armada kapal selam modern yang terus bertumbuh seiring berjalannya waktu. Meskipun jika dilihat secara kuantitas, kapal selam kelas Sinpo atau Gorae baru dibuat hanya satu unit saja, namun pencapaian ini menandakan bahwa Korut telah mencapai level baru dalam industri pertahanan dalam negerinya khususnya industri manufaktur kapal selam.
Pada akhirnya, kita sampai pada kesimpulan bahwa armada kapal selam Korut memang belum sepenuhnya berevolusi. Ia masih sama seperti pada era sebelumnya, meskipun kini kapal selam kelas Gorae atau Sinpo yang notabene lebih baru telah hadir. Potensi ancaman dari kapal selam milik Korea Utara saat ini semakin tidak bisa dipandang sebelah mata. Meskipun rudal ‘Pukkuksong-1’yang akan memperkuat kapal selam kelas Gorae atau Sinpo ini belum selesai dibuat, namun bukan tidak mungkin Korut mampu menyelesaikannya dalam waktu dekat. Dalam hal ini, kewaspadaan semua pihak serta kebijaksanaan dari masing – masing pihak tentu berperan penting dalam menyelesaikan konflik berkepanjangan ini.[]Sumber:hobbymiliter







